JAKARTA, DISWAY.ID-- Pengelola penjualan plastik, Joni mengaku kerap menerima banyak keluhan dari pembeli mulai dari pedagang kecil sampai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Hal tersebut dikarenakan adanya konflik memanas antara Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran suah berlangsung kurang lebih 37 hari.
BACA JUGA:Subsidi BBM Tak Dihapus, Harga Pertalite dan Solar Dijaga hingga Akhir Tahun
Dari banyaknya keluhan yang diterima, para pembeli sering kali mengeluhkan harga beli yang melambung tinggi di tengah kondisi peperangan ini.
"Keluhn masyarakat sangat banyak. Khususnya kaya pedagang kecil, pedagang kaki lima, yang omsetnya tidak seberapa, cuma dengan belanjanya nak, baik, nauk terus itu yang sangat resah di masyarakat," jelas Joni saat ditemui disway.id dilokasi pada Senin, 6 April 2026.
Menurut Joni, keluhan tersebut disampaikan para pembeli dikarenakan penghasilan mereka yang tidak seberapa, namun harga beli kantung kemasan semakin melebihi pengeluaran.
"Ya dari segi belanja plastik khususnya pedagang kaki lima, kaya buat packaging-packaging ka semua pengguna plastik," terang dia.
BACA JUGA:Puluhan Siswa Alami Keracunan MBG di Duren Sawit, IDAI Minta Pemerintah Lakukan Audit
Selain itu, pria berusia 27 tahun mengaku mengalami penurunan yang signifikan imbas dari perang tersebut. Sebab, lanjut Joni, penurunan itu bisa mencapai 10 persen dari hari biasa sebelum perang.
"Nah dengan keadaan itu lah omset bisa turun sekitar 10%," kata dia.
Sedangkan kenaikan ini diduga dapat mencapai 100 persen. Bila perang itu terus berlanjut,
"Naiknya sekitar 60 sampai 70 persen, dan harga itu busa naik-naik terus mungkin 100%, bisa jadi," ungkapnya.
BACA JUGA:Buntut Perang Iran, Kantung Plastik Kian Mahal, Pedagang Mangaku Omzet Turun 10 Persen
Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah strategis untuk menekan kenaikan harga bahan baku plastik yang sebagian besar bergantung pada pasokan industri besar dan impor.
"Harapannya ada pembicaraan antara pemerintah dengan produsen besar atau pabrik plastik supaya ada solusi. Supaya bahan baku bisa masuk dengan harga yang tidak terlalu mahal," pungkas Joni.





