FAJAR, MAKASSAR — Situasi yang dihadapi PSM Makassar saat ini ibarat berdiri di tepi jurang—belum jatuh, tetapi juga belum benar-benar aman. Hasil imbang melawan Persis Solo menjadi cermin paling nyata bahwa persoalan utama tim bukan sekadar taktik, melainkan kombinasi antara mentalitas, konsistensi, dan kemampuan menjaga momentum.
Dalam laga tersebut, PSM sebenarnya memulai dengan baik. Gol dari Yuran Fernandes menunjukkan bahwa skema permainan berjalan sesuai rencana. Intensitas tinggi, tekanan ke lawan, serta keberanian menyerang menjadi identitas yang sempat muncul di babak pertama. Namun seperti yang diakui asisten pelatih Ahmad Amiruddin, semua itu runtuh setelah jeda.
Babak kedua menjadi titik balik—bukan dalam arti positif, melainkan sebagai awal kemunduran. Intensitas permainan menurun drastis, koordinasi melemah, dan yang paling krusial: mental bertanding terlihat goyah. Pergantian pemain yang diharapkan menjadi solusi justru tidak memberi dampak signifikan. Tim kehilangan kontrol, dan kesalahan sendiri membuka jalan bagi lawan untuk menyamakan kedudukan.
Kondisi ini mempertegas satu hal yang sejak awal menjadi sorotan: PSM belum memiliki fondasi mental yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan kompetisi. Dalam situasi unggul, mereka belum mampu “membunuh” pertandingan. Sebaliknya, ketika ditekan, respons tim justru cenderung panik dan kehilangan arah.
Namun di tengah situasi yang mengkhawatirkan itu, ada “napas tambahan” yang datang dari luar. Kemenangan Persib Bandung dan Borneo FC atas tim-tim papan bawah secara tidak langsung menyelamatkan posisi PSM dari zona merah.
Persib menunjukkan kelasnya dengan menundukkan Semen Padang 2-0 di kandang lawan. Sementara Borneo FC tampil meyakinkan saat mengalahkan Madura United dengan skor 3-1. Dua hasil ini bukan hanya penting bagi mereka di papan atas, tetapi juga berdampak langsung pada peta persaingan di papan bawah.
Bagi PSM, hasil tersebut adalah berkah terselubung. Dengan pesaing terdekat gagal meraih poin, posisi mereka di peringkat 13 dengan 25 poin masih relatif aman—setidaknya untuk sementara. Namun di sinilah letak masalahnya: “sementara” bukanlah jaminan.
Mengandalkan hasil tim lain adalah strategi yang rapuh. Dalam sepak bola, situasi bisa berubah hanya dalam satu pekan. Hari ini terbantu, besok bisa justru terdesak. Karena itu, bergantung pada “kebaikan” tim lain seperti Persib dan Borneo FC bukanlah jalan keluar jangka panjang.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya aura kandang PSM. Stadion Gelora B.J. Habibie yang dulu dikenal angker kini tidak lagi menakutkan bagi tim tamu. Lawan datang tanpa beban, bahkan mampu mencuri poin dengan relatif mudah. Ini menjadi indikasi bahwa ada yang salah, bukan hanya di dalam lapangan, tetapi juga dalam atmosfer tim secara keseluruhan.
Suporter pun mulai realistis. Perwakilan Red Gank, Muhammad Alfajri, secara terbuka menurunkan ekspektasi. Target bertahan di liga kini terasa lebih relevan dibandingkan berbicara soal prestasi tinggi. Ini adalah sinyal bahwa kepercayaan publik mulai tergerus—dan itu bisa menjadi tekanan tambahan bagi tim.
Di sisi lain, pernyataan Ahmad Amiruddin tentang pentingnya “leader” di lapangan juga patut digarisbawahi. Dalam situasi sulit, tim membutuhkan sosok yang mampu mengangkat moral, mengorganisir permainan, dan menjaga fokus rekan-rekannya. Tanpa itu, tim akan mudah goyah setiap kali menghadapi tekanan.
Namun kepemimpinan tidak bisa hanya dibebankan pada satu atau dua pemain. Ini harus menjadi tanggung jawab kolektif. Setiap pemain harus memiliki rasa memiliki terhadap tim, bukan sekadar menjalankan peran formal di lapangan.
Kini, semua mata tertuju pada laga berikutnya melawan PSIM Yogyakarta. Pertandingan ini bukan sekadar lanjutan kompetisi, tetapi bisa menjadi titik balik—atau justru awal dari masalah yang lebih besar.
Jika PSM mampu meraih kemenangan, itu akan menjadi suntikan moral yang sangat penting. Kepercayaan diri bisa kembali, tekanan berkurang, dan peluang menjauh dari zona degradasi semakin terbuka. Namun jika kembali gagal, situasi bisa berubah menjadi jauh lebih rumit.
Kunci utama ada pada keberanian untuk berubah. PSM harus berani keluar dari zona nyaman, mengevaluasi secara jujur, dan mengambil langkah tegas. Entah itu dalam strategi, komposisi pemain, atau pendekatan mental—semuanya harus diarahkan pada satu tujuan: meraih kemenangan.
Sepak bola pada akhirnya adalah soal hasil. Permainan bagus tanpa kemenangan tidak akan cukup untuk menyelamatkan tim dari degradasi. Dan dalam kondisi seperti sekarang, PSM tidak punya kemewahan untuk menunda-nunda perbaikan.
Mereka sudah cukup “diselamatkan” oleh hasil tim lain. Kini saatnya menyelamatkan diri sendiri.




