Pemerintah Arab Saudi telah memberi persetujuan pada arah investasi dan rencana operasional bandara internasional yang akan dibangun di Makkah—90 km dari kota bisnis Jeddah.
Menurut CEO Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Situs-Situs Suci (Royal Commission for Makkah City and Holy Sites/RCMC) Saleh Al-Rasheed yang dikutip dari Saudi Gazette pada 2 April 2026, persetujuan itu juga menyangkut arah investasi strategis dan ekonomi guna mengembangkan Bandara Makkah sesuai standar global.
Bandara ini dirancang untuk melayani jutaan jemaah haji dan umrah, sejalan dengan Visi Saudi 2030 yang menargetkan kedatangan hingga 30 juta jemaah per tahun.
RCMC akan bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengembangkan model investasi yang sesuai tanpa “merusak” ekosistem bandara yang sudah ada — misalnya Bandara Jeddah dan Bandara Madinah--yang selama ini menjadi lokasi pendaratan jemaah umrah dan haji.
Kota Baru Al-FaisaliyahDalam pernyataan singkatnya itu, Saleh Al-Rasheed tidak menjelaskan di mana bandara baru itu akan berdiri. Namun, kabar ini membuat sejumlah kalangan di Saudi teringat pada pidato Emir Makkah, Pangeran Khalid Al-Faisal, pada Juli 2017.
Pangeran Khalid yang juga penasihat Raja Salman ini pada tahun itu mengumumkan visi besar untuk wilayah Makkah yang diberi nama "Al-Faisaliyah”.
Nama Faisal diberikan Raja Salman sebagai penghormatan untuk Raja Faisal yang pernah memimpin Arab Saudi pada 1964 hingga 1975.
Pengumuman Pangeran Khalid pada masa itu sangat monumental karena proyek ini direncanakan menjadi perluasan terbesar Kota Suci Makkah sepanjang sejarah, yang membentang dari batas Masjidil Haram hingga ke pantai Laut Merah (kawasan Al-Shuaiba). Di kota baru ini juga akan ada bandara dan pelabuhan.
Lokasi Kota Al-Faisaliyah berada di antara Jeddah dan Kota Suci Makkah, membentang seluas 2.354 kilometer persegi.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 8 Juli 2019, Pangeran Khalid mengumumkan alokasi lahan di proyek Al-Faisaliyah untuk proyek bandara khusus haji dan umrah.
Bandara baru ini akan terhubung dengan Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah melalui kolaborasi dengan Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA).
Video pidato Pangeran Khalid yang menyangkut rencana bandara itu viral, yang bunyinya:
Ada proyek-proyek lain yang akan dilaksanakan di Al-Faisaliyah dalam waktu dekat seperti kantor-kantor pemerintahan. Dan insyaallah akan ada bandara khusus untuk haji dan umrah yang terhubung dengan Bandara King Abdulaziz di Jeddah, insyaallah.
Teknologi baru akan digunakan di proyek Al-Faisaliyah agar insyaallah Makkah Al-Mukarramah menjadi kota pintar di dunia yang cerdas.
Dan sekarang sudah dibuka untuk menyelesaikan semua bagian proyek ini. Juga terbuka untuk perusahaan-perusahaan dalam proyek ini dan pengembangannya, sesuai visi yang disepakati oleh Sayyidi Khadim Al-Haramain Asy-Syarifain [Raja Arab Saudi].
Setelah itu, tidak terdengar pemberitaan yang mencolok.
Hingga pada awal April 2026, CEO RCMC mengumumkan 'lampu hijau' operasional yang menandai dimulainya babak baru pembangunan bandara internasional di Makkah. Alhasil banyak yang mengaitkan bandara itu dengan kota baru Al-Faisaliyah.
Penyelesaian Penuh 2050Mengutip Arab Urban, Kota Al-Faisaliyah mencakup komponen-komponen berikut:
Cakupan Wilayah: Berbatasan dengan Pegunungan Bahra di sebelah utara, instalasi desalinasi Shuaiba di selatan, Gerbang Makkah di timur, dan Laut Merah di barat.
Perumahan dan Layanan: Mencakup 995.000 unit hunian, layanan kesehatan dan pendidikan terintegrasi, serta pusat komersial dan ritel terpadu (mixed-use).
Infrastruktur Mobilitas: Jalur transportasi modern yang mencakup bandara khusus, pelabuhan laut, serta sistem transit internal.
Kota Al-Faisaliyah menjadi bagian dari strategi pengembangan jangka panjang Arab Saudi (Visi 2030). Implementasinya direncanakan dalam tujuh fase yang dimulai sejak tahun 2020 dengan target penyelesaian penuh pada tahun 2050. Setiap fase dirancang untuk mencapai target pengembangan progresif tertentu.
Mengingat lokasi geografisnya yang strategis, proyek ini diharapkan menjadi pusat logistik dan investasi regional yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengurangi beban perkotaan di Makkah dan Jeddah.
Selain itu, proyek ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, penyediaan hunian, serta infrastruktur ramah lingkungan, sekaligus menjadi model bagi kota pintar masa depan di wilayah Teluk dan sekitarnya.





