Malang: Ribuan Aremania mendeklarasikan komitmen sepak bola damai dalam konsolidasi akbar di Pendopo Panji Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Kepanjen, Minggu 5 April 2026. Deklarasi ini digelar menjelang laga panas Arema FC kontra Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026.
General Manajer Arema FC Yusrinal Fitriandi menegaskan deklarasi ini menjadi momentum membangun ekosistem sepak bola yang sehat dan berkelanjutan. Ia menilai sinergi antara klub, pemerintah, dan suporter menjadi fondasi penting menjaga kondusivitas pertandingan.
“Sepak bola adalah milik bersama, bukan hanya klub. Sinergi antara pemerintah daerah, klub, dan suporter adalah hal mutlak. Kami ingin sepak bola hadir sebagai pemersatu, bukan pemecah,” ujar Yusrinal di Kabupaten Malang, Senin 6 April 2026.
Baca Juga :
Jelang Duel di Kanjuruhan, Malut United Tak Anggap Remeh Arema FCIa menambahkan peran Aremania sangat vital dalam menjaga eksistensi klub dan atmosfer pertandingan. Forum ini sekaligus menjadi titik awal memperkuat nilai persaudaraan di Malang Raya.
“Arema bukan sekadar tentang kemenangan, tetapi juga menjaga warisan persaudaraan dan martabat sepak bola Malang Raya,” tambah Yusrinal.
Legenda Arema, Ovan Tobing, turut menyerukan perubahan sikap suporter agar lebih dewasa dalam mendukung tim. Ia menekankan pentingnya menjamin keamanan dan kenyamanan, termasuk bagi tim tamu.
“Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu berubah. Yang terpenting bukan hanya pertandingan di dalam stadion, tetapi bagaimana kita menjamin keamanan dan kenyamanan tim tamu sejak datang hingga kembali,” ujar Ovan.
Ia mengingatkan agar peristiwa kelam sepak bola tidak terulang dalam laga besar tersebut. Menurutnya, duel Arema melawan Persebaya akan menjadi sorotan publik luas.
“Cukup satu kejadian, jangan sampai terulang lagi. Mari kita buktikan bahwa kita mampu menjadi tuan rumah yang baik dan bertanggung jawab,” tegas Ovan.
Dalam deklarasi itu, perwakilan suporter dan panpel juga menandatangani nota kesepahaman berisi enam poin komitmen. Poin tersebut mencakup larangan kekerasan, penghormatan terhadap tim tamu, hingga koordinasi pengamanan terpadu.
Kapolresta Malang Kota Kombes Putu Kholis Aryana dan Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdianto hadir sebagai saksi penandatanganan. Keterlibatan polisi menegaskan keseriusan semua pihak menjaga keamanan selama laga berlangsung.
Konsolidasi akbar di Pendopo Panji Kantor Pemkab Malang, Kepanjen, Minggu 5 April 2026. Dokumentasi/ Pemkab Malang.
Mewakili Bupati Malang, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang menilai sepak bola memiliki dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Ia menyebut deklarasi ini menjadi langkah penting membangun karakter generasi muda melalui sportivitas.
“Sepak bola bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang pembelajaran sosial dan ekonomi. Di dalamnya terdapat nilai-nilai sportivitas, solidaritas, serta pembentukan karakter generasi muda,” ujar Firmando.
Pemerintah Malang Raya, lanjut dia, berkomitmen memperkuat sinergi dengan klub dan suporter untuk menciptakan atmosfer pertandingan yang kondusif. Ia menegaskan daerah harus dikenal karena kedewasaan suporternya, bukan fanatisme berlebihan.
“Tentu, kita ingin stadion menjadi ruang yang aman, nyaman, sekaligus membanggakan bagi semua pihak,” ungkap Firmando.
Kegiatan bertajuk Arema One Blood tersebut dihadiri unsur Forkopimda Malang Raya, komunitas suporter, serta koordinator lapangan dari Malang Raya, Blitar, hingga Pasuruan. Aparat Polresta Malang Kota dan Polres Malang juga terlibat untuk memperkuat pengamanan lintas sektor.




