Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Mega Tbk. (MEGA) mengungkapkan pertumbuhan kredit pada awal tahun ini ditopang oleh pencairan fasilitas kredit yang telah disiapkan sebelumnya. Kondisi ini membuat pertumbuhan terlihat cukup positif, meskipun belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan permintaan baru di tahun berjalan.
Direktur Wholesale Banking Bank Mega Madi Darmadi Lazuardi menyebut ibarat menanam, bank mulai “memanen” kredit yang telah disepakati sejak 2025, baik melalui skema sindikasi maupun bilateral. Selain itu, kredit baru yang telah diproses sejak tahun lalu juga mulai dibukukan pada awal 2026.
“Kalau kuartal I ini justru kita kelihatannya cukup positif. Kita udah positif lumayan signifikan lah dibanding tahun lalu,” kata Madi saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, dikutip pada Senin (6/4/2026).
Di balik pertumbuhan kredit, perbankan menghadapi tantangan besar dari sisi profitabilitas. Persaingan suku bunga kredit semakin ketat, terutama bagi bank swasta, seperti Bank Mega yang harus bersaing dengan bank besar seperti Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan bank swasta besar lainnya.
Madi mengungkapkan bahwa bank berada dalam dilema. Untuk tetap tumbuh, mereka harus menawarkan bunga kredit yang kompetitif. Kendati begitu, langkah ini berisiko menekan net interest margin (NIM).
Di sisi lain, biaya dana (cost of fund) belum turun signifikan karena persaingan penghimpunan dana masih tinggi. Akibatnya, spread bunga semakin menyempit.
“Jadi kita akhirnya pintar-pintarlah mencari kredit-kredit yang feasible tapi dengan suku bunga yang buat Bank Mega masih kita bisa terima. Itu menurut saya tantangan yang paling besar,” ungkapnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan hingga Februari 2026, kredit perbankan masih tumbuh 9,37% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp8.559 triliun. Meski tetap positif, angka ini sedikit melambat dibandingkan Januari yang mencapai 9,96% YoY.
Meski likuiditas terlihat memadai, tidak semua dana tersebut mengalir ke sektor riil. Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo melihat adanya kecenderungan perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.
Menurutnya, pertumbuhan kredit kuartal I/2026 cenderung “pincang”. Kredit korporasi besar masih tumbuh stabil, tetapi belum mampu menutup lemahnya kontribusi dari sektor UMKM.
Dia juga menyoroti preferensi bank yang mulai mengalihkan likuiditas ke instrumen yang lebih aman seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dibandingkan menyalurkannya ke kredit yang lebih berisiko.
“Secara kualitatif, perbankan terlihat lebih menempatkan likuiditasnya pada instrumen bebas risiko seperti SBN atau SRBI daripada menyalurkannya ke sektor riil yang masih fluktuatif, sehingga pertumbuhan kredit total diprediksi akan berada di bawah target optimis awal tahun,” tutur Arianto.
Di sisi lain, tantangan struktural juga masih membayangi, terutama dalam penyaluran kredit ke sektor UMKM.




