Kisah Bung Karno Gotong Jenazah Ibu Amsi hingga Susuri Hutan dan Bukit

okezone.com
20 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA - Ibu dari Inggit Garnasih, Amsi meninggal karena terserang malaria. Lima hari ibu mertua Soekarno ini  tergolek di tempat tidurnya, di rumah pengasingan Bung Karno di Ambugaga, Ende, Flores.

Hanya sekali ibu Amsi sadarkan diri, setelah itu tergolek tak sadar, hingga ajal menjemput. Ibu Amsi wafat di pangkuan Bung Karno, menantu kesayangan.

Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan, ketika itu, cucu ibu Amsi, anak angkat Bung Karno – Inggit, Ratna Djuami juga terserang malaria. Bedanya, Omi, begitu ia dipanggil, pulih, sedangkan Tuhan menghendaki ibu Amsi wafat di tanah interniran, di tanah buangan, nun jauh dari Bandung.

Baca Juga :
Air Mata Bung Karno Tumpah Lihat Rakyat seperti Tengkorak saat Romusha di Banten

Pemerintahan kolonial, karesidenan Ende, sama sekali tidak mau mengulurkan tangan untuk memberinya bantuan perawatan. Bahkan, setelah meninggal dunia pun, jenazahnya dilarang dikubur di dalam kota.

Bung Karno dan kawan-kawannya, harus menggotong jenazah ibu Amsi jauh naik bukit, masuk ke tengah hutan. Ke tempat yang ditunjuk dan dibolehkan Belanda untuk memakamkan ibu Amsi.

Bung Karno pula yang turun ke dasar lahat, menerima jazad ibunda mertua, meletakkannya di tanah menghadapkannya ke arah kiblat, menutup dan mengurug.

Baca Juga :
Bung Karno Menyamar sebagai Orang Biasa di Pasar Senen hingga Menyatu dengan Rakyat Jelata

Namun bukan hanya itu. Tangan Bung Karno sendiri yang memahatkan tulisan Iboe Amsi di dinding nisan sebelah utara. Bersama teman-temannya, Bung Karno naik ke pegunungan, mengambil bongkahan batu karst yang keras, dan memahatnya menjadi seukuran batako, kemudian meletakkannya di sekeliling-pinggir-atas permukaan nisan, jumlahnya 21.

Ibu Amsi, seperti halnya Inggit, dan jutaan rakyat Indonesia, termasuk pengagum berat Bung Karno. Syahdan, ketika Inggit berunding bersama saudara-saudaranya di Bandung, tentang ikut-tidaknya Inggit ke pembuangan, ibu Amsi muncul mendadak dan menyatakan sikapnya, “Saya juga ikut (ke pembuangan)”.

Inggit dalam buku “Kuantar ke Gerbang” menuturkan, di antara kerabatnya, terdapat silang pendapat. Antara yang setuju Inggit mendampingi Bung Karno ke pembuangan, dengan pendapat yang menyatakan sebaiknya Inggit tidak ikut.

Baca Juga :
Kisah Raja Arab Saudi Hadiahi Mobil Chrysler Crown untuk Bung Karno dan Peristiwa Cikini Berdarah

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Sebut Tren Kemarau Kering El Nino di Jatim Melandai sejak 2023
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ketua KPK Ngaku Belum Dipanggil Dewas Buntut Polemik Tahanan Rumah Yaqut
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Penipu yang Ngaku Karyawan TV Swasta Ditangkap Saat Akan Jual Motor di Jaksel
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Soal 380 Lowongan Kerja di Bea Cukai untuk Lulusan SMA, Purbaya: Bulan Depan Dibuka
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Stok BBM Aman, Sekprov Jufri Rahman Imbau Masyarakat Tak Panic Buying
• 14 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.