VIVA – Persija Jakarta lagi-lagi harus menelan pil pahit. Bertandang ke markas Bhayangkara FC, Macan Kemayoran tumbang dramatis 2-3 dalam lanjutan Super League 2025/2026.
Padahal, laga sempat terlihat “milik” Persija. Mereka langsung tancap gas lewat gol cepat Rayhan Hannan di detik ke-34. Sempat disamakan oleh Moussa Sidibe, Persija kembali unggul lewat Fabio Calonego di menit 63.
Tapi seperti deja vu, semuanya runtuh di akhir. Bhayangkara bangkit lewat gol Dendy Sulistyawan (86’) dan Sidibe (90+4’)—membalikkan keadaan sekaligus memukul mental Persija.
Usai laga, pelatih Mauricio Souza buka-bukaan. Ia mengakui peluang juara masih ada, tapi dengan catatan: kesalahan yang sama tak boleh terulang.
"Kalau bicara soal poin, ya. Masih ada 24 poin yang tersedia, ada delapan pertandingan lagi di mana 24 poin diperebutkan," ujar Mauricio Souza kepada awak media seusai melawan Bhayangkara FC.
"Saat ini kita tertinggal sembilan poin di belakang pemimpin klasemen," ucapnya.
Realitanya, jarak dengan Persib Bandung di puncak memang cukup lebar. Namun, secara matematis peluang itu masih hidup.
Masalahnya bukan di peluang—tapi di kebiasaan buruk. Persija terus mengulang pola yang sama: kehilangan poin di menit-menit akhir.
Mulai dari kebobolan lawan Borneo FC di menit 90+4, hingga gagal menang saat menghadapi Dewa United. Dan kini, skenario itu kembali terulang saat melawan Bhayangkara.
Mauricio pun tak menutupinya. Ia menilai timnya sudah cukup baik, tapi gagal menjaga konsistensi hingga peluit akhir.
"Tapi saya tidak ragu, tim yang mau jadi juara tidak boleh membiarkan poin terbuang begitu saja seperti yang sudah kita alami di pertandingan-pertandingan terakhir," kata Mauricio Souza.
"Kita kebobolan di menit ke-49 melawan Borneo, yang merupakan lawan langsung kita. Kita juga kehilangan poin melawan Dewa di menit ke-80. Dan hari ini melalui penalti," ungkapnya.
"Dalam pandangan saya, pertandingan hari ini sebenarnya sudah berada di tangan kita, tapi kita melepaskannya begitu saja. Kita tidak bisa tampil maksimal sampai akhir."
Meski kritiknya tajam, satu hal tetap ia pegang: Persija belum menyerah.





