HARGA minyak mentah Amerika Serikat (AS) dilaporkan tetap bertahan di atas level US$110 per barel. Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul sikap tegas Iran yang menolak tenggat waktu (deadline) dari Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Penolakan Teheran terhadap tuntutan Washington menimbulkan kekhawatiran serius di pasar global mengenai potensi gangguan pasokan minyak mentah dalam jangka panjang.
Respons Pasar terhadap Eskalasi GeopolitikPara pelaku pasar bereaksi cepat terhadap ketidakpastian ini. Berikut beberapa poin utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak saat ini:
Baca juga : Harga Minyak Dunia Meroket Tembus US$114 Usai Ultimatum Keras Trump ke Iran
- Penolakan Iran: Teheran secara resmi menyatakan keberatan terhadap tekanan diplomatik dan tenggat waktu yang ditetapkan oleh pemerintahan Trump.
- Risiko Pasokan: Ancaman penutupan atau gangguan di Selat Hormuz dapat menghambat distribusi jutaan barel minyak per hari ke pasar internasional.
- Sentimen Investor: Ketidakpastian politik mendorong investor untuk beralih ke aset komoditas, yang menyebabkan harga tetap tinggi meskipun ada upaya stabilisasi.
Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Mei turun 0,5%, diperdagangkan pada $110,99 per barel. Pada Kamis, kontrak tersebut melonjak, ditutup pada US$111,54. Ini tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, menurut Dow Jones Market Data.
Minyak mentah Brent Juni turun 0,6% menjadi $108,41 per barel, setelah ditutup naik 3,5% minggu lalu. Ini kemenangan mingguan ketujuh berturut-turut.
Kedelapan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya pada Minggu (6/4) sepakat menaikkan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei, kenaikan untuk bulan kedua berturut-turut.
Baca juga : Klaim Perang Iran hampir Selesai, Trump Siapkan Serangan Berat Tiga Minggu
OPEC+ menyatakan keprihatinan mengenai serangan terhadap infrastruktur energi. Mereka mencatat bahwa memulihkan aset energi yang rusak ke kapasitas penuh sangat mahal dan memakan waktu lama, sehingga memengaruhi ketersediaan pasokan secara keseluruhan.
Menurut mitra pengelola di SPI Asset Management, Stephen Innes, dengan tenggat waktu yang ketat bagi Iran untuk membuka kembali selat tersebut, perdagangan minyak mentah akan berhenti berdasarkan neraca penawaran dan permintaan. Akan tetapi distribusi probabilitas hasil dalam jendela yang semakin menyempit.
Menurut Innes, pasar mencoba untuk memperkirakan probabilitas gencatan senjata yang belum ada. Jika AS terus menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, ini bukan lagi tentang apakah ketegangan di Timur Tengah mereda. "Ini tentang seberapa cepat rantai pasokan dapat kembali normal, bahkan jika itu terjadi," katanya.
Dampak Terhadap Ekonomi GlobalJika harga minyak terus bertahan di atas US$110 per barel, tekanan inflasi global diprediksi akan meningkat. Negara-negara importir minyak akan menghadapi beban biaya energi yang lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga barang konsumsi dan biaya transportasi di berbagai belahan dunia.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Pasar berharap ada solusi damai untuk menghindari krisis energi yang lebih dalam. Namun, posisi kedua belah pihak yang masih keras membuat harga minyak tetap berada dalam tren bullish. (Market Watch/I-2)





