Ketika Antang Hampir Kehabisan Ruang: PSEL dan Ikhtiar Menyelamatkan Masa Depan Kota

terkini.id
17 jam lalu
Cover Berita

ADA saat dalam sejarah sebuah kota ketika angka-angka tidak lagi sekadar data, melainkan alarm peradaban. Di Antang, Kota Makassar, alarm itu kini berbunyi keras. Lahan TPA yang tersisa sekitar 22 hektar, dengan tinggi timbunan sampah mendekati 20 meter dan volume mencapai sekitar 3 juta ton, bukan hanya statistik teknokratis, tetapi gambaran nyata tentang batas kesabaran bumi dalam menanggung jejak konsumsi manusia.

Antang hari ini seperti sedang berdiri di tepi sebuah jurang ekologis. Gunung sampah yang menjulang bukan sekadar tumpukan residu rumah tangga, melainkan monumen diam dari gaya hidup kota modern. Cepat membeli, cepat memakai, cepat membuang. Dalam diamnya, ia menyimpan pertanyaan filosofis yang tajam. Sampai kapan sebuah kota bisa terus tumbuh tanpa membangun kesadaran atas sisa-sisanya?

Di titik kritis inilah kehadiran Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menemukan urgensi historisnya. Pemerintah Kota Makassar mempercepat realisasi proyek ini bukan sekadar karena kebutuhan infrastruktur, tetapi karena waktu telah berubah menjadi tekanan. Ketika ruang fisik TPA makin menipis, kota dipaksa mencari ruang baru dalam imajinasi kebijakannya. PSEL hadir sebagai jawaban atas keterbatasan ruang itu:
Ia mengubah beban menjadi daya, mengubah residu menjadi energi, mengubah ancaman menjadi kemungkinan.

Logika PSEL berangkat dari prinsip sederhana namun revolusioner Sampah tidak harus berakhir sebagai timbunan. Dengan teknologi waste to energy, residu yang selama ini memenuhi landfill dapat dikonversi menjadi listrik melalui sistem termal dan pengendalian emisi yang terukur. Dalam perspektif ekologi perkotaan, ini adalah bentuk evolusi dari sistem linear—ambil, pakai, buang—menuju sistem sirkular yang memberi kehidupan kedua pada material yang dianggap mati.

Yang menarik, proyek ini sebenarnya bukan gagasan yang lahir kemarin sore. Ia telah masuk Proyek Prioritas Strategis sejak 2018 melalui Perpres 35, sebuah penanda bahwa negara sejak lama membaca ancaman sampah sebagai isu masa depan kota-kota besar. Namun, sering kali sejarah pembangunan membutuhkan momentum krisis agar gagasan yang lama tertunda menemukan jalannya. Antang yang nyaris penuh kini menjadi momentum itu.

Target operasional penuh pada 2029, dengan masa konstruksi dua hingga tiga tahun, menempatkan proyek ini bukan hanya sebagai agenda teknis, tetapi proyek lintas generasi. Anak-anak yang hari ini tumbuh di sekitar Kecamatan Manggala mungkin kelak menyaksikan Antang bukan lagi sebagai simbol beban kota, melainkan sebagai mercusuar energi hijau Makassar. Ada dimensi moral besar yang sedang memutus warisan buruk open dumping dan menggantinya dengan warisan teknologi yang lebih beradab.

Namun, di atas semua itu, persoalan sesungguhnya tetap kembali pada kesadaran. PSEL adalah solusi hilir yang sangat penting, tetapi ia tidak boleh membuat kota lupa pada hulu. Sampah selalu lahir dari kebiasaan, dari dapur rumah tangga, dari pasar, dari pusat konsumsi, dari budaya sekali pakai yang belum selesai kita kritik. Jika kesadaran memilah dan mengurangi tidak tumbuh, maka teknologi secanggih apa pun hanya akan menjadi mesin yang sibuk membereskan akibat tanpa menyentuh sebab.

Sebagai arsitek kesadaran, saya melihat Antang sedang mengajarkan satu pelajaran penting bagi kota-kota Indonesia bahwa krisis ruang adalah krisis cara berpikir. Ketika tanah hampir habis untuk menampung sampah, sesungguhnya yang habis lebih dulu adalah imajinasi lama kita tentang pembangunan. Kota masa depan tidak bisa lagi hanya membangun jalan, gedung, dan pusat niaga; ia harus membangun etika baru tentang bagaimana manusia hidup bersama sisa-sisanya.

Dalam bahasa yang lebih puitis, Antang sedang berdiri di ambang metamorfosis. Gunung sampah itu bukan akhir cerita. Ia bisa menjadi bahan bakar bagi cahaya, asalkan kita berani mengubah cara pandang. Dari tumpukan yang nyaris menyesakkan, PSEL menawarkan sebuah harapan. Bahwa dari sesuatu yang paling dibuang pun, kota masih bisa menyalakan masa depannya sendiri.

Dan mungkin, justru di situlah kebesaran sebuah peradaban diuji. Bukan pada apa yang ia hasilkan, tetapi pada bagaimana ia memuliakan apa yang tersisa.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buntut Sengketa Rumah dengan Okin, Rachel Vennya Tempuh Jalur Hukum
• 10 jam lalucumicumi.com
thumb
Polri Ungkap Modus Penyalahgunaan BBM dan LPG Bersubdisi, Penimbunan hingga Pelat Palsu
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Mudik sebagai Reaktivasi Memori Kolektif
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Skandal Korupsi Telkom Rp464,9 Miliar Memasuki Babak Akhir, 11 Terdakwa Siap Hadapi Vonis
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
[FULL] Respons LBH & Komisi III DPR soal Andrie Yunus Tolak Kasusnya Diusut Peradilan Militer
• 2 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.