Iran tak gentar merespons komentar dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mengeklaim akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran, pada Selasa (7/4). Hal ini menyusul tenggat yang ia beri terhadap rezim Khamenei, untuk membuka kembali selat Hormuz sebelum pukul 08.00 waktu AS.
"Ancaman yang kasar, arogan, retoris dan tak berdasar dari Presiden AS yang delusional, tak punya efek apa pun bagi para pejuang Islam melawan AS dan Zionis," kata Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran, Khatam Al-Anbiya, lewat media siar pemerintah Iran via AFP.
Ancaman ini ditebark Trump lewat akun media sosial Truth Social, pada Minggu (5/4). Ia mengancam, jika Iran tak patuh, maka negeri itu akan berubah jadi 'neraka'.
"Selasa akan menjadi hari pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Buka Selat Hormuz, atau kalian akan hidup dalam ‘neraka’," tulis Trump.
Pernyataan ini mempertegas ancaman sebelumnya, di mana Trump memberi tenggat waktu kepada Iran sampai Senin (6/4) untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.
Ketegangan meningkat setelah Iran mempertahankan kendali ketat atas selat tersebut, yang menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global.
Langkah ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas, terutama di kawasan Timur Tengah yang kini sudah terdampak perang antara Iran, AS, dan sekutunya.





