FAJAR , TANA TORAJA— Kondisi memprihatinkan jalan poros Simbuang–Mappak kembali menjadi sorotan. Ruas yang berada di wilayah barat Tana Toraja dan berbatasan dengan Pinrang, Enrekang, serta Mamasa itu masih sulit dilalui, bahkan untuk kebutuhan mendesak sekalipun.
Peristiwa terbaru terjadi pada Senin (6/4/2026). Sebuah jenazah yang diantar dari Kota Makassar menuju Kecamatan Simbuang terpaksa ditandu oleh keluarga dan warga sejauh kurang lebih 10 kilometer. Hal itu dilakukan karena kondisi jalan yang rusak parah dan masih berupa tanah, sehingga kendaraan tidak dapat melintas.
Proses pengantaran jenazah berlangsung penuh perjuangan. Warga harus bergantian menandu peti, bahkan beberapa kali berhenti untuk beristirahat akibat kelelahan. Kondisi semakin sulit saat hujan turun. Jalan menjadi licin dan berlumpur, membuat kendaraan seperti motor trail hingga mobil double cabin pun kerap tidak mampu menembus jalur tersebut.
Masalah infrastruktur di ruas ini sejatinya bukan hal baru. Wacana perbaikan jalan Simbuang–Mappak sudah berulang kali mencuat, namun hingga kini belum terealisasi. Pada masa Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Bachtiar Baharuddin, anggaran perbaikan jalan sempat direncanakan, tetapi kemudian batal atau dialihkan.
Nilai anggaran proyek yang sempat beredar diperkirakan mencapai Rp17 miliar hingga Rp18 miliar. Namun, hingga kini belum ada kejelasan lanjutan terkait pengalokasian kembali anggaran tersebut.
Memasuki masa pemerintahan Gubernur Sulawesi Selatan periode 2025–2030, Andi Sudirman Sulaiman, belum ada informasi terbaru mengenai kelanjutan proyek perbaikan jalan tersebut.
Tak hanya jalan poros provinsi yang memprihatinkan, sejumlah ruas jalan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Tana Toraja juga dilaporkan masih banyak yang belum tersentuh perbaikan.
Dampak buruk dari kondisi ini bahkan pernah menelan korban. Pada 2024 dan 2025, dilaporkan seorang ibu hamil terpaksa melahirkan di jalan saat hendak menuju fasilitas kesehatan di kota. Bayi yang dilahirkan saat itu meninggal dunia karena ambulans tidak mampu melewati medan jalan yang rusak.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah usia kemerdekaan Indonesia yang telah memasuki 80 tahun. Di saat berbagai program pembangunan terus berjalan, masih ada wilayah yang harus menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar yang berdampak langsung pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. (*)





