Bisnis.com, JAKARTA — PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) mencatatkan realisasi pendapatan sebesar Rp9,66 triliun sepanjang tahun buku 2025.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 31 Desember 2025, perolehan pendapatan tersebut mayoritas disumbangkan oleh segmen teknik dan konstruksi senilai Rp8,32 triliun dan manufaktur sebesar Rp628,51 miliar.
Seiring hal itu, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp8,61 triliun, atau turun 26,50% dari posisi tahun sebelumnya senilai Rp11,72 triliun. Dengan demikian, laba kotor ADHI pada akhir 2025 berada pada level Rp1,04 triliun.
Pada sisi bottom line, emiten BUMN Karya tersebut melaporkan rugi bersih sebesar Rp5,40 triliun pada 2025. Angka ini berbeda dibandingkan dengan posisi rugi bersih tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp86,75 miliar.
Adapun posisi kas dan setara kas perseroan pada akhir periode 2025 tercatat senilai Rp1,71 triliun, dari posisi awal tahun 2024 sebesar Rp2,24 triliun.
Dari sisi neraca, total aset ADHI per Desember 2025 berada pada level Rp28,79 triliun, dibandingkan Rp34,64 triliun pada akhir 2024. Liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp25,49 triliun dan ekuitas berada pada posisi Rp3,29 triliun.
Baca Juga
- Adhi Karya Bakal Gelar RUPO Kamis (12/2), Cek Agendanya
- ADHI Targetkan Jembatan Krueng Tingkeum di Aceh Rampung Juli 2026
- Adhi Karya (ADHI) Garap 80 Huntara di Aceh Tamiang, Serah Terima Mulai 8 Januari
Dalam perkembangan lain, Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan bahwa proses restrukturisasi perusahaan konstruksi pelat merah atau BUMN Karya telah memasuki tahap akhir.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menuturkan restrukturisasi akan menjadi langkah awal sebelum BUMN Karya melangkah ke fase konsolidasi tiga core utama, yakni konstruksi di area gedung, infrastruktur, dan engineering procurement and construction (EPC).
Proses tersebut, lanjutnya, dimulai dengan perbaikan fundamental perusahaan, terutama melalui impairment laporan keuangan dan restrukturisasi utang.
“Kami sudah lakukan impairment juga terhadap bolong-bolong bukunya. Kemudian kita restrukturisasi terhadap hutang-hutangnya. Setelah ini mereka masuk ke fase konsolidasi," ujar Dony pada pertengahan Maret 2026.
Melalui perbaikan fundamental dan konsolidasi, Dony optimistis masa depan BUMN Karya akan semakin cerah. Dia menargetkan tahun ini BUMN di sektor konstruksi akan kembali sehat dengan tata kelola yang lebih baik.
Dia juga menegaskan seluruh proses menuju konsolidasi ini dilakukan dengan semangat transparansi. Menurutnya, setiap BUMN terbuka untuk diawasi oleh publik dan media sebagai bentuk kontrol terhadap aset milik rakyat.
“Fase konsolidasi ini yang tadi saya sampaikan, kita lihat kecocokan. Kita hanya akan masuk nanti ke tiga kelompok besar saja di masing-masing. Ada yang di infrastructure, ada yang di building dan gedung, ada yang di EPC,” ujar Dony.
Sebelumnya, integrasi tujuh BUMN Karya dipastikan mundur hingga 2026 setelah sebelumnya diproyeksikan selesai pada Desember 2025.
Tujuh perusahaan itu adalah ADHI, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya. (Persero).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





