Setelah terbit ultimatum terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada pimpinan Iran, rezim tersebut tetap bersikeras pada tuntutannya sendiri.
Selat Hormuz yang sangat penting bagi pasar minyak dan gas global hanya akan dibuka kembali "jika, dalam kerangka tatanan hukum baru, kerusakan akibat perang yang dipaksakan sepenuhnya dikompensasi dari sebagian biaya transit," tulis Mehdi Tabatabaei, pejabat komunikasi di kantor Presiden Iran Massoud Pezeshkian.
Komando angkatan laut Garda Revolusi, pasukan elite kuat Iran, dikutip media dalam negeri menyatakan bahwa Selat Hormuz "tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel." Iran mengklaim kendali atas seluruh jalur tersebut dan berencana menerapkan sistem tarif untuk pelayaran yang melintas.
Tak lama kemudian, Garda Revolusi melaporkan bahwa kepala divisi intelijen mereka, Majid Khadami, tewas dalam sebuah serangan. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa militer telah "menyingkirkan" Khadami. Ia disebut bertanggung jawab langsung atas serangan roket mematikan terhadap warga sipil Israel.
Ancaman Iran juga mengarah ke Laut MerahSelain itu, dari Teheran muncul peringatan keras lainnya. Jika Amerika Serikat dan Israel meningkatkan serangan, jalur pelayaran penting bagi pasar energi global di luar Selat Hormuz juga dapat terancam, sebut Ali Akbar Velayati. Ia adalah penasihat kebijakan luar negeri bagi Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi baru Iran.
Yang dapat terdampak termasuk Selat Bab al-Mandab, yang merupakan pintu masuk ke Laut Merah dan menuju Terusan Suez di utara, demikian dilaporkan oleh stasiun pemerintah Press TV.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di platform X bahwa "kejahatan perang"" tidak akan menghasilkan apa-apa. Satu-satunya solusi adalah "menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini." Ia memperingatkan bahwa "langkah-langkah ceroboh" dapat membakar seluruh kawasan.
Trump kembali memaki-makiTrump pada hari Minggu (05/04) menulis secara sangat kasar di platformnya Truth Social tentang Iran sehubungan penutupan Selat Hormuz. Pernyataan inilah yang memicu kegeraman Iran, hingga malah minta ganti rugi perang, sebelum membuka selat itu.
Presiden Trump memberi waktu hingga Selasa (07/04) malam kepada pimpinan di Teheran untuk memenuhi tuntutan membuka Selat Hormuz. Ia telah menunda ultimatum tersebut untuk ketiga kalinya.
Batas waktu baru berakhir Selasa pukul 20.00 waktu Washington. "Jika mereka tidak melakukan apa pun hingga Selasa malam, tidak akan ada pembangkit listrik atau jembatan yang tersisa," kata Trump kepada surat kabar The Wall Street Journal.
Pakistan ajukan rencana perdamaianSementara itu, portal berita AS Axios melaporkan bahwa Amerika Serikat, Iran, dan mediator regional sedang melakukan "upaya terakhir" untuk merundingkan syarat-syarat gencatan senjata selama 45 hari. Axios mengutip empat sumber dari Amerika, Israel, dan kawasan tersebut. Ini disebut sebagai peluang terakhir untuk mencegah eskalasi dramatis.
Menurut laporan, Pakistan telah menyampaikan sebuah konsep kepada pimpinan di Washington dan Teheran. Rencana Pakistan mencakup pendekatan dua tahap: gencatan senjata segera, kemudian perjanjian komprehensif.
Iran mengonfirmasi telah menerima rencana tersebut, menurut seorang pejabat. Namun, Republik Islam itu tidak bersedia menyetujui gencatan senjata sementara dan tidak akan membuka Selat Hormuz untuk tujuan tersebut, kata seorang sumber kepada kantor berita Reuters. Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan maupun ultimatum.
Serangan baru sebabkan kerusakan besar di KuwaitPada saat yang bersamaan, rezim Iran kembali meluncurkan serangan pesawat nirawak atau drone dan rudal ke negara-negara Teluk. Menurut otoritas setempat, infrastruktur sipil kembali menjadi sasaran.
Drone Iran menyebabkan kerusakan "parah" pada beberapa fasilitas minyak dan petrokimia di Kuwait, menurut perusahaan minyak negara tersebut. Beberapa fasilitas dilaporkan mengalami kebakaran.
Kementerian listrik dan air Kuwait juga menyatakan bahwa dua fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air laut rusak akibat serangan drone Iran. Serangan tersebut menyebabkan "kerusakan material yang signifikan dan penghentian dua unit pembangkit listrik."
Kementerian keuangan menambahkan bahwa serangan drone Iran di Kuwait City menyebabkan kerusakan "luas" pada sebuah gedung pemerintah. Dalam serangan udara terhadap kawasan permukiman, enam orang dilaporkan terluka.
Bahrain dan UEA kembali terkena seranganDi Bahrain, perusahaan energi milik negara melaporkan bahwa serangan drone Iran memicu kebakaran di sebuah tangki penyimpanan, yang kemudian berhasil dipadamkan.
Otoritas di Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan bahwa pelabuhan Khor Fakkan di pantai timur negara Teluk, dekat pintu masuk Selat Hormuz, menjadi target serangan. Empat orang terluka akibat pecahan puing yang jatuh saat proyektil yang tidak teridentifikasi dicegat.
Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan insiden tersebut dan menyebut adanya "proyektil tak dikenal" yang jatuh "di dekat" sebuah kapal kontainer yang sedang dimuat di pelabuhan.
Amerika Serikat dan Israel memulai serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Sejak itu, Republik Islam Iran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta beberapa negara Teluk dan fasilitas AS di kawasan tersebut.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Arti Ekawati
width="1" height="1" />
(ita/ita)





