Menkeu Purbaya Sebut Daya Beli Masyarakat Masih Tinggi

metrotvnews.com
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi perekonomian nasional tetap menunjukkan tren positif di tengah kondisi geopolitik dunia yang memanas. Hal itu bisa dilihat dari sejumlah indikator konsumsi dan mobilitas masyarakat terus tumbuh, mencerminkan daya beli yang masih terjaga.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin 6 April 2026, Purbaya mengungkapkan penjualan mobil mencapai level tinggi, bahkan menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir meski sempat mengalami sedikit penurunan dari puncaknya. Sementara itu, penjualan sepeda motor juga tetap mencatatkan pertumbuhan positif.

“12,2 untuk penjualan mobil. Itu level yang tinggi sekali, walaupun agak turun sedikit di peak-nya, tapi kalau Anda lihat dibanding tahun lalu, ini level yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Artinya memang ada perbaikan daya beli,” kata Purbaya, dikutip dalam program Breaking News Metro TV, Senin 6 April 2026.

Selain itu, konsumsi semen sebagai indikator aktivitas sektor riil juga menunjukkan tren positif. Pada dua bulan pertama tahun ini, pertumbuhan konsumsi semen mencapai sekitar 5,3 persen, berbalik dari tren negatif yang terjadi pada pertengahan tahun lalu.

"Kalau kita lihat di tahun lalu rata-ratanya ya, Juni, Juli, Agustus, September itu cenderung negatif. Jadi memang ada perbaikan riil di perekonomian," ujarnya.
 

Baca Juga :

 
Purbaya Bantah Ekonomi RI 'Kepanasan' Gegara Inflasi Maret Meroket
 


Indikator lainnya, seperti Mandiri Spending Index, juga menunjukkan peningkatan signifikan dan berada di level tinggi, yang mengindikasikan aktivitas konsumsi masyarakat terus menguat. Selain itu, mobilitas ekonomi turut tercermin dari meningkatnya konsumsi listrik di sektor bisnis dan industri. 

"Mobilitas ekonomi dan bisnis juga tercermin pada penjualan listrik bisnis dan industri, termasuk penjualan semen. Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi bergerak kuat didukung aktivitas dunia usaha dan konsumsi domestik," ujarnya.

Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Salah satu langkah strategis adalah penempatan dana sebesar Rp200 triliun dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan guna meningkatkan likuiditas dalam sistem keuangan.

Kebijakan ini berdampak pada pertumbuhan base money (M0) yang mencapai 19,2 persen secara tahunan hingga Maret 2026. Likuiditas yang memadai turut mendorong pertumbuhan kredit sebesar 9,4 persen, didukung oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga 13,2 persen.

Menurut Purbaya, kebijakan tersebut juga berkontribusi pada penurunan suku bunga deposito dan kredit, sehingga biaya dana perbankan menjadi lebih efisien dan mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif.

Meski demikian, pemerintah tetap berhati-hati agar pertumbuhan ekonomi tidak terlalu panas. Pemantauan dilakukan secara berkala melalui sistem peringatan dini (early warning system) untuk menjaga stabilitas.

“Dengan sinergitas kebijakan ini, diharapkan investasi meningkat, lapangan kerja bertambah, dan pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhaj Bertemu Dubes Arab Saudi Bahas Kesiapan Haji 2026
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Diduga Modus Ngamen, Uang dan HP di Toko Sembako Prambon Sidoarjo Raib Saat Pemilik Tinggal Makan
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bawa 3 Poin dari Padang, Tren Positif Persib Dipercaya Terus Bertahan: Termasuk Sapu Bersih 4 Laga Kandang
• 23 jam lalubola.com
thumb
Laporan Parkir Liar Dibalas Foto AI, Pramono Desak Inspektorat Periksa Lurah Kalisari!
• 10 jam laludisway.id
thumb
Mudik sebagai Reaktivasi Memori Kolektif
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.