Peran perempuan di posisi tertinggi pemerintahan dunia memang semakin terlihat dalam beberapa dekade terakhir. Namun jika dilihat dari jumlahnya, representasi tersebut masih tergolong kecil dibandingkan laki-laki.
Sebuah analisis dari Pew Research Center pada 2026 menunjukkan bahwa saat ini hanya 13 dari 193 negara anggota PBB yang dipimpin oleh perempuan sebagai kepala pemerintahan. Data ini menunjukkan bahwa meski ada kemajuan, kepemimpinan perempuan di tingkat global masih jadi isu besar.
Beberapa Negara Dipimpin Perempuan untuk Pertama KalinyaDi antara para pemimpin perempuan yang sedang menjabat saat ini adalah Perdana Menteri Barbados, Mia Mottley, yang baru saja terpilih kembali dalam pemilu terbaru. Ada pula Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang memenangkan pemilu parlemen dan mencatat sejarah sebagai perdana menteri perempuan pertama di Jepang.
Sanae menjadi salah satu dari sepuluh pemimpin perempuan yang saat ini merupakan pemimpin perempuan pertama di negara mereka. Artinya, sebagian negara baru mulai memiliki perempuan di posisi kepala pemerintahan dalam beberapa tahun terakhir.
Sebanyak 63 Negara Pernah Dipimpin PerempuanSecara historis, jumlah negara yang pernah dipimpin perempuan memang lebih banyak dibandingkan jumlah yang sedang menjabat saat ini. Dari total 193 negara anggota PBB, sebanyak 63 negara pernah memiliki pemimpin perempuan setidaknya sekali.
Pemimpin perempuan pertama di dunia adalah Sirimavo Bandaranaike dari Sri Lanka, yang saat itu masih bernama Ceylon. Ia mulai menjabat sebagai perdana menteri pada 1960. Dalam satu dekade berikutnya, negara lain seperti India dan Israel juga mencatat sejarah dengan pemimpin perempuan pertama mereka.
Jumlah Pemimpin Perempuan Meningkat Sejak 1990-anJumlah negara yang pernah dipimpin perempuan meningkat secara konsisten sejak 1990-an. Salah satu lonjakan terbesar terjadi pada 2010, ketika lima negara sekaligus untuk pertama kalinya memiliki pemimpin perempuan.
Negara-negara tersebut adalah Australia, Costa Rica, Kyrgyzstan, Slovakia, dan Trinidad and Tobago. Tren ini menunjukkan bahwa semakin banyak negara yang mulai membuka ruang bagi perempuan untuk menduduki posisi tertinggi dalam pemerintahan.
Pada 2025, tiga negara lain juga mencatat sejarah baru dengan pemimpin perempuan pertama mereka, yaitu Japan, Namibia, dan Suriname.
Pemimpin Perempuan dengan Masa Jabatan TerlamaDi antara para pemimpin perempuan yang masih menjabat saat ini, Mia Mottley dari Barbados menjadi yang paling lama memimpin. Ia telah menjabat sebagai perdana menteri selama hampir delapan tahun.
Sementara itu, jika melihat sejarah secara keseluruhan sejak 1960, pemimpin perempuan dengan masa jabatan terlama adalah mantan Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina. Ia memimpin negaranya selama lebih dari dua dekade sebelum mengundurkan diri pada 2024 setelah gelombang protes besar di negaranya.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah pemimpin perempuan perlahan meningkat dari waktu ke waktu, representasi perempuan dalam kepemimpinan politik global masih menjadi isu yang terus diperbincangkan hingga saat ini.





