5 Berita Populer: Haldy Sabri Diduga Sindir Ammar; Rachel Vennya Singgung Nafkah

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Haldy Sabri diduga sindir Ammar Zoni usai singgung Irish Bella dalam pleidoi jadi salah satu berita populer pada Senin (6/4). Selain itu ada mengenai Rachel Vennya singgung nafkah hingga utang saat tanggapi klarifikasi Niko Al Hakim.

Berikut adalah rangkuman dari 5 berita populer yang menyita perhatian sepanjang hari kemarin.

1. Haldy Sabri Diduga Sindir Ammar Zoni Usai Singgung Irish Bella dalam Pleidoi

Drama perceraian Ammar Zoni dan Irish Bella masih jadi perbincangan hangat, apalagi setelah Ammar menyinggung nama sang mantan istri dalam pleidoinya di pengadilan. Hal ini rupanya memancing reaksi dari Haldy Sabri, suami Irish Bella saat ini. Lewat media sosialnya, Haldy menyentil Ammar agar fokus pada pembelaan dirinya, bukan malah 'baper' dengan membawa-bawa nama istri orang.

Haldy menegaskan bahwa selama ini ia dan Irish tidak pernah mengusik kehidupan Ammar. Ia juga berharap tidak ada pihak yang sengaja memutus tali silaturahmi. Sementara itu, Ammar dalam pleidoinya sempat curhat mengenai momen pilu saat Irish Bella memutuskan bercerai di tengah masa rehabilitasinya karena kasus narkoba. Ammar yang mengaku tidak menginginkan perpisahan itu juga terpukul dibesarkan di keluarga yang tak mengenal perceraian.

Tak hanya itu, Ammar juga sempat mengungkapkan kekecewaannya karena Irish Bella disebut akan menikah lagi, bahkan sebelum 100 hari meninggalnya sang ayah. Rangkaian peristiwa ini diakui Ammar sebagai titik terendah dalam hidupnya yang membuatnya merasa tak pantas menjadi pasangan yang baik.

2. Tanggapi Klarifikasi Niko Al Hakim, Rachel Vennya Singgung Nafkah hingga Utang

Pasangan selebriti yang sudah berpisah, Rachel Vennya dan Niko Al Hakim (Okin), kembali jadi sorotan publik. Kali ini, 'perang dingin' mereka memanas gara-gara polemik aset rumah yang disebut Rachel dijual Okin tanpa izin, padahal tadinya diniatkan untuk anak mereka. Okin pun tak tinggal diam, ia memberikan klarifikasi bahwa rumah tersebut sudah menjadi miliknya secara resmi sejak pembagian harta di tahun 2021.

Namun, 'drama' belum usai. Rachel Vennya langsung tancap gas menanggapi klarifikasi Okin. Melalui kolom komentar, ibu dua anak ini membongkar semua unek-uneknya, mulai dari aset gono-gini yang tak pernah ia dapat, BPKB mobil Alphard yang digadaikan, hingga tanah di Bali yang disebut 'green zone' dan tak bisa dijual. Rachel juga menyinggung soal nafkah anak yang tidak sesuai perjanjian dan pinjaman uang yang berkali-kali ia berikan kepada Okin.

Rachel mengaku 'capek' dan siap menyerahkan semua urusan kepada pengacaranya. Bahkan, ia rela melepas rumah tersebut asalkan Okin bisa melunasi semua utangnya. Wah, kasus mantan pasangan ini sepertinya bakal makin seru!

3. Azizah Salsha Buka Pintu Damai untuk Bigmo dan Resbob

Kasus pencemaran nama baik yang menyeret YouTuber Bigmo dan kakaknya, Resbob, sebagai tersangka atas laporan Azizah Salsha, kini memasuki babak baru. Di tengah proses hukum yang masih berjalan, istri Pratama Arhan ini justru menunjukkan 'itikad baik' dengan membuka pintu damai.

Azizah mengungkapkan bahwa ia sedang merencanakan pertemuan dengan pihak Bigmo dan Resbob untuk mencari penyelesaian secara kekeluargaan. Ia mengaku siap memaafkan jika ada 'itikad baik' dari mereka, apalagi Bigmo dan Resbob sudah mencoba menghubungi lewat teman-teman mutual. Meski belum bisa memastikan apakah akan mencabut laporan atau tidak, Azizah berharap bisa menemukan solusi terbaik bagi semua pihak.

Tak mau ambil pusing dengan cibiran netizen, Azizah kini memilih untuk 'living the life' dan tidak terlalu menanggapi bully-an. Laporan ini sendiri bermula setelah Bigmo dan Resbob mengunggah video YouTube yang membahas kehidupan pribadi Azizah Salsha, yang berujung pada mediasi yang gagal dan berlanjut ke tahap penyidikan.

4. Videotron Promosi Film 'Aku Harus Mati' di Surabaya Sudah Diturunkan

Promosi film 'Aku Harus Mati' sempat bikin geger di Surabaya. Sebuah videotron dengan judul yang cukup 'mengganggu' ini terpasang di bundaran depan Pakuwon Mall dan menuai banyak keluhan dari masyarakat. Beruntungnya, videotron kontroversial tersebut kini sudah diturunkan. Satpol PP Surabaya mengonfirmasi bahwa setelah berkoordinasi dengan Bapenda, promotor film akhirnya melakukan 'take down' pada Jumat (3/4).

Kontroversi ini juga sampai ke telinga Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Mereka menyatakan keprihatinan, menilai visual dan narasi film tersebut berpotensi memicu ketidaknyamanan emosional, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, remaja, dan individu yang sedang berjuang dengan kesehatan mental. Paparan berulang pesan tentang kematian tanpa konteks yang tepat dianggap dapat meningkatkan kecemasan dan menjadi pemicu bagi mereka yang memiliki riwayat depresi atau ide bunuh diri.

Meski produser film, Iwet Ramadhan, mengklaim bahwa semua materi promosi, termasuk judul, sudah mengikuti prosedur dan mendapat persetujuan LSF serta DJKI, pihak LSF sendiri mengakui adanya celah regulasi. Ketua LSF, Naswardi, menyatakan bahwa pengawasan media promosi di luar bioskop masih menjadi wewenang pemerintah daerah, sehingga LSF berencana merumuskan kebijakan baru untuk mengatasi polemik serupa di kemudian hari.

5. Psikolog Ingatkan Bahaya Billboard Aku Harus Mati di Ruang Publik

Gelombang protes terhadap billboard promosi film 'Aku Harus Mati' tak hanya datang dari masyarakat, tapi juga dari kalangan profesional. Psikolog Naomi Ernawati Lestari, M.Psi, turut angkat bicara mengenai bahaya konten promosi tersebut, khususnya di ruang publik yang dapat diakses oleh siapa saja tanpa filter.

Menurut Naomi, kalimat "aku harus mati" yang terpampang di ruang publik sangat 'keras dan riskan'. Bagi individu yang sedang depresi atau memiliki gangguan mental, frasa ini bisa menjadi pemicu serius (trigger) yang memperparah kondisi mereka, bahkan bisa terasa seperti validasi atas pikiran negatif yang mereka miliki. Dampaknya tak hanya pada orang dewasa, anak-anak pun bisa merasakan takut atau bahkan menganggap kata 'mati' sebagai hal yang biasa, yang tentu tidak sehat bagi perkembangan mereka.

Naomi menekankan bahwa ruang publik seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua kalangan. Industri kreatif diharapkan lebih sensitif dan bertanggung jawab dalam menampilkan materi promosi, terutama untuk tema-tema yang sensitif seperti horor. Ia juga memuji langkah cepat Pemprov DKI Jakarta yang menurunkan sejumlah billboard tersebut, menegaskan bahwa semakin cepat dihapus, semakin baik untuk melindungi masyarakat dari dampak psikologis yang tidak diinginkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sudah Punya 3 Kapal Rumah Sakit, BPJS Kesehatan Akan Tambah dengan Kapal TNI AL
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Masalah Lini Depan Jadi Sorotan, Striker A-League Beri Sinyal Kuat Gabung Timnas Indonesia
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
CBS Pilih Byron Allen Gantikan Stephen Colbert di Slot Late-Night Mulai Mei 2026
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
KKP Perkuat Edukasi Nelayan Sultra, Cegah Penangkapan Ikan Ilegal di Negara Lain
• 2 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Rupiah Melemah ke Rp17.064 per Dolar di Tengah Ketegangan AS-Iran
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.