Macron Melawan Trump: Fragmentasi Barat & Strategi Asimetris Iran

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Ketegangan antara Emmanuel Macron dan Donald Trump bukan sekadar drama diplomatik personal, melainkan cermin retakan struktural dalam arsitektur keamanan Barat. Respons keras Macron terhadap inkonsistensi kebijakan Trump dalam perang Iran memperlihatkan bahwa Eropa tidak lagi nyaman berada dalam orbit strategi militer Amerika yang dianggap impulsif dan tidak terkoordinasi.

Dalam konteks ini, sikap Eropa yang mulai menolak penggunaan wilayah udara dan pangkalan militernya untuk operasi ofensif menandai pergeseran penting: dari sekadar sekutu menjadi aktor otonom yang mulai mendefinisikan kepentingan strategisnya sendiri. Ketika bahkan negara seperti Inggris mulai berbicara tentang otonomi keamanan, ini bukan sekadar sinyal ketidaksetujuan, tetapi gejala krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan global Amerika.

Retaknya Konsensus Atlantik

Macron dan Bahasa Kedaulatan Eropa

Iran dan Keuntungan Perang Asimetris

Apa yang terjadi hari ini dapat dibaca sebagai erosi “konsensus Atlantik”—fondasi yang selama ini menopang hubungan NATO. Kritik Macron terhadap Trump bukan hanya soal gaya komunikasi, tetapi menyentuh substansi: ketidakjelasan tujuan perang, inkonsistensi strategi, dan kecenderungan unilateralisme. Dalam logika geopolitik klasik ala realisme, aliansi bertahan bukan karena nilai, tetapi karena kepentingan bersama yang stabil. Ketika kepentingan itu berubah secara sepihak, aliansi pun mengalami delegitimasi internal.

Macron tampak sedang memainkan peran sebagai artikulator “kedaulatan strategis Eropa.” Penolakannya terhadap opsi merebut Selat Hormuz secara paksa menunjukkan pendekatan rasional berbasis kalkulasi risiko. Ia memahami bahwa langkah tersebut tidak hanya mahal secara militer, tetapi juga membuka ruang eskalasi yang tidak terkendali. Dalam hal ini, Eropa memilih jalur de-eskalasi dan stabilisasi ekonomi global, berbeda dengan pendekatan Trump yang cenderung ofensif.

Saya dapat memahami kekesalan Macron dan Eropa seperti yang dapat dibaca pada artikel The New York Times berjudul “Macron Snaps Back at Trump, Reflecting Europe’s Growing Anger Over Iran” karya Mark Landler (2 April 2026), ketika Macron menegaskan bahwa “kita tidak bisa mengatakan hal yang bertentangan dari hari ke hari dalam situasi perang.” Pernyataan ini bukan sekadar kritik retoris, tetapi refleksi kegelisahan strategis terhadap kepemimpinan yang dianggap tidak konsisten dalam konteks konflik yang sangat sensitif.

Dari perspektif Iran, retakan ini merupakan keuntungan strategis yang signifikan. Dalam doktrin perang asimetris, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh superioritas militer, tetapi oleh kemampuan memecah kohesi lawan. Iran tidak perlu memenangkan perang secara konvensional; cukup dengan memastikan bahwa lawannya—dalam hal ini blok Barat—tidak solid. Ketika Eropa dan Amerika berbeda arah, maka tekanan terhadap Iran otomatis terfragmentasi.

Iran selama ini mengandalkan strategi “deterrence by complexity”—menciptakan medan konflik yang rumit dan berlapis, baik melalui proksi regional, ancaman terhadap jalur energi global, maupun tekanan psikologis terhadap pasar internasional. Dalam konteks ini, perbedaan sikap Eropa terhadap operasi militer di kawasan menjadi pengungkit penting. Penolakan Eropa untuk terlibat langsung atau mendukung eskalasi justru mempersempit ruang gerak Amerika dan Israel.

Lebih jauh, sikap Eropa yang memilih pendekatan hati-hati terhadap Selat Hormuz menunjukkan kesadaran bahwa stabilitas energi global adalah kepentingan bersama yang tidak bisa dikorbankan demi ambisi geopolitik jangka pendek. Ini selaras dengan kepentingan Iran yang ingin mempertahankan leverage strategisnya di kawasan tanpa harus terlibat dalam konfrontasi terbuka berskala besar.

Dalam perspektif teori hubungan internasional, situasi ini mengingatkan pada tesis klasik bahwa aliansi besar sering runtuh bukan karena serangan eksternal, tetapi karena kontradiksi internal. Ketika Eropa mulai meragukan komitmen Amerika terhadap multilateralisme, dan Amerika melihat sekutunya sebagai beban, maka yang terjadi adalah “strategic drift”—pergeseran tanpa arah yang justru dimanfaatkan oleh aktor seperti Iran.

Macron, dalam hal ini, tidak hanya sedang “sewot” terhadap Trump, tetapi sedang mengartikulasikan kegelisahan Eropa yang lebih dalam: ketakutan bahwa mereka terseret dalam konflik yang bukan sepenuhnya milik mereka, dengan risiko ekonomi dan keamanan yang harus mereka tanggung sendiri. Dalam ruang retakan inilah Iran menemukan celah—bukan untuk menang secara frontal, tetapi untuk memastikan bahwa tidak ada front yang benar-benar bersatu melawannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Azizah Salsha Pilih Move On Usai Cerai dengan Arhan, Kini Fokus Masa Depan Bersama Sosok Baru
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Tiga Prajurit TNI AD Didakwa Berlapis dalam Kasus Penculikan dan Pembunuhan Kepala Cabang Bank di Jakarta
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Siap-siap! Cinema XXI Tebar Dividen Rp980 Miliar, Hampir 100% Laba Dibagikan
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tiket Pesawat Naik 9-13 Persen, Menko Airlangga: Akibat Perang, Harga Avtur Naik
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Wujudkan Keadilan Sosial, Pemerintah Siap Renovasi 400 Ribu Rumah Rakyat Miskin
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.