Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia akibat fenomena El Nino tahun ini. Masyarakat diminta bijak dalam menggunakan sumber-sumber air yang ada.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa berdasarkan data historis dari kejadian El Nino kuat pada 1997, 2015, dan 2023, wilayah yang mengalami curah hujan sangat rendah di sejumlah wilayah di Indonesia.
"Meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku, hingga Papua," kata Ardhasena saat dihubungi kumparan, Selasa (7/3).
Secara umum, hampir sebagian besar wilayah Indonesia rentan terhadap kekeringan selama periode El Nino.
Ardhasena, yang akrab disapa Sena, menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada pola iklim global, termasuk Indonesia.
“El Nino itu tidak terjadi di Indonesia, tetapi dampaknya bersifat global. Untuk Indonesia, efek utamanya adalah berkurangnya curah hujan secara signifikan, bahkan bisa memicu kekeringan,” ujar Sena.
Sena menyebut, secara historis, fenomena ini tidak terjadi setiap tahun, melainkan memiliki siklus antara dua hingga tujuh tahun.
Dalam satu siklus, El Niño dapat berlangsung selama 9 hingga 12 bulan, tergantung pada intensitasnya, mulai dari lemah hingga sangat kuat.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi terkait perkembangan El Nino. Peringatan dini, kata Sena, telah disampaikan jauh hari agar masyarakat dan pemerintah dapat melakukan langkah mitigasi.





