Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, berusaha jujur kepada warganya dengan memperingatkan dampak ekonomi dari perang di Iran masih bisa lebih buruk dari saat ini. Menurutnya, sekarang bahkan pasar saham dan komoditas belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan terburuk.
Di sisi lain, penutupan efektif Selat Hormuz telah mengganggu jalur penting pengiriman minyak dan gas ke Asia. Kondisi ini memaksa negara-negara mencari pasokan alternatif dan mendorong kenaikan harga energi. Jalur ini sendiri menangani sekitar seperlima pasokan LNG dunia.
Pemerintah di berbagai negara mulai memperingatkan kondisi ke depan akan semakin menantang, seiring kenaikan biaya impor energi yang berpotensi mendorong inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Singapura termasuk negara yang sangat rentan terhadap kondisi ini karena hampir seluruh kebutuhan energinya berasal dari impor, dan lebih dari 90 persen listriknya bergantung pada gas alam.
Dia juga berharap tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dan berbagai ancaman di dalamnya menjadi pengingat serius bagi semua pihak bahwa ekonomi bisa lebih jatuh lagi ke depannya.
“Saya sudah berhenti mencoba membaca arah prediksi pasar. Saya cukup yakin pasar belum sepenuhnya memperhitungkan skenario terburuk," terangnya.
Pasar global masih bergerak tidak menentu akibat berbagai pernyataan yang saling bertentangan terkait perang di Iran. Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang berakhirnya tenggat waktu dari Trump.
Sejak konflik global dimulai pada akhir Februari, saham global tercatat turun lebih dari 5 persen, sementara harga minyak melonjak tajam. Bahkan Dolar AS yang biasanya menjadi aset aman saat ketidakpastian geopolitik justru melemah setelah sempat mencapai level tertinggi pada 2026.
Balakrishnan, seperti banyak pejabat di Asia, mempertanyakan perlunya aksi militer AS di Iran. Namun, ia menilai China tidak berupaya memanfaatkan situasi tersebut.
“China bersikap stabil, hati-hati, dan terukur. Mereka fokus pada ekonomi domestiknya dan tidak mencoba mengambil keuntungan dari situasi yang memperburuk kondisi global," ujarnya.





