Jadi kota teraman se-ASEAN, Pram akui terkejut DKI duduki posisi kedua

antaranews.com
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengakui terkejut Jakarta bisa duduki posisi kedua sebagai kota teraman se-ASEAN menurut Global Residence Index edisi 2026.

“Itu saya sebenarnya juga surprise. Jakarta yang selama ini selalu di bawah Bangkok, Manila dan Kuala Lumpur, sekarang Jakarta posisi kedua, setelah Singapura,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Selasa.

Pramono mengatakan, pencapaian tersebut bisa diraih oleh Jakarta karena pada beberapa momen besar keagamaan yang lalu, ibu kota bisa menjaga keamanan dan keharmonisan.

Misalnya seperti christmas carol saat perayaan Natal, Cap Go Meh saat Imlek, pawai obor dan festival bedug saat Ramadhan dan Idul Fitri, hingga pawai ogoh-ogoh saat Nyepi.

“Alhamdulillah menunjukkan kuatnya keberagaman yang ada di Jakarta. Itu juga menjadi etalase atau simbol tentang Jakarta sendiri,” ujar Pramono.

Dia pun menekankan agar keamanan dan kenyamanan di Jakarta dapat terus dijaga dan ditingkatkan bersama-sama.

Sebelumnya diketahui, Jakarta berhasil mengungguli berbagai kota besar di ASEAN, seperti Manila, Bangkok, dan Kuala Lumpur sebagai kota teraman.

Adapun urutan pertama diduduki oleh Singapura dengan skor 0,90, pada posisi kedua diduduki Jakarta dengan skor 0,72.

Kemudian di urutan ketiga ada Bangkok dengan skor 0,65, disusul Vientiane dengan skor 0,61, Hanoi dengan skor 0,60 dan Kuala Lumpur dengan skor 0,57.

Baca juga: Kunker ke Kuala Lumpur, Pramono jadi pembicara di forum regional ASEAN

Baca juga: Pramono jadi pembicara di "ASEAN Sustainable Urbanisation Forum"

Berikut adalah beberapa indikator dalam menentukan skor keamanan sebuah kota menurut Global Residence Index:

  • Numbeo Index: Mengukur persepsi keamanan publik dari warga, meliputi risiko kejahatan, pencurian, dan serangan fisik.
  • Homicide rate (city & country): Tingkat pembunuhan per kapita, baik di tingkat kota maupun negara,
  • Global Peace Index: Menilai tingkat kedamaian nasional berdasarkan beberapa faktor, seperti konflik internal atau eksternal, keamanan masyarakat, dan tingkat militerisasi.
  • Security Risk: Risiko keamanan umum, misalnya ancaman terorisme, stabilitas sosial, atau kriminalitas berat.
  • Political Risk: Stabilitas politik dan risiko ketidakpastian pemerintahan.
  • Natural Disaster Risk: Potensi risiko bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, badai, dan lainnya.
  • Road Traffic Death Rate: Tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas (mencerminkan keselamatan transportasi).
  • Natural Disasters Death Rate: Jumlah (aktual) kematian akibat bencana alam.
  • Major Conflict Death Rate: Tingkat kematian akibt konflik besar di wilayah tersebut.

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mariolo Rent Group Usung Layanan Rental Mobil Mudah dan Berkualitas
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Dedi Mulyadi Tak Pandang Bulu, Kini Beri Bantuan kepada 2 Pria Asal Wonogiri dengan Cuma-cuma
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Inara Rusli Mengganti Nama Jadi Inarasati di Tengah Kasus Dugaan Perzinaan dan Perselingkuhan, Wardatina Mawa Beri Reaksi Khusus
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Menlu Prancis Ingatkan Bahaya Serangan ke Fasilitas Energi Iran
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pendatang Baru di Jakarta Barat Mencapai 486 Orang
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.