MENTERI Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot kembali menegaskan sikap negaranya yang menolak serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi di Iran, di tengah meningkatnya ketegangan akibat ancaman dari Amerika Serikat (AS).
Dalam wawancara dengan France Info pada Selasa (7/4), Barrot menyatakan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional dan aturan perang.
"Kami terus menentang serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi, pertama-tama, karena hal itu dilarang berdasarkan aturan perang dan hukum internasional," katanya dilansir Anadolu, Selasa (7/4).
Baca juga : Kapal Internasional Akhirnya Tembus Selat Hormuz, dari Negara Mana Saja?
Ia memperingatkan bahwa serangan terhadap sektor vital seperti energi berpotensi memicu eskalasi baru yang berbahaya. Menurutnya, langkah tersebut dapat membuka fase baru eskalasi pembalasan yang berisiko menyeret kawasan dan ekonomi global ke dalam siklus setan.
Barrot juga menyoroti dampak langsung terhadap ekonomi, termasuk kenaikan harga energi. Ia menegaskan bahwa jika fasilitas energi Iran diserang, kemungkinan besar akan ada balasan dari Teheran yang dapat memperburuk situasi.
"Demi kepentingan kita sendiri, kita sudah melihat lonjakan harga bahan bakar. Jika infrastruktur energi di Iran menjadi sasaran, kita dapat mengharapkan pembalasan dari rezim Iran, yang akan semakin memperburuk situasi yang sudah mengkhawatirkan," sebutnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan posisi Prancis dan negara-negara Eropa yang berupaya tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut. Namun, mereka tetap berusaha menekan dampaknya serta mendukung upaya mediasi yang dipimpin oleh negara-negara di kawasan. Barrot juga kembali menyinggung sikap awal Prancis terhadap konflik yang sedang berlangsung.
"Sejak hari pertama, kami tidak menyetujui intervensi Israel-Amerika, yang tidak memiliki tujuan yang cukup jelas dan yang menyimpang dari hukum internasional," pungkasnya. (Fer/P-3)





