BOGOR, KOMPAS.com - Tidak semua mahasiswa berada dalam posisi yang memungkinkan mereka menyelesaikan pendidikan sesuai target waktu.
Sebagian harus menjalani masa studi lebih panjang, hingga kerap dijuluki “mahasiswa abadi” atau bahkan “donatur kampus”, karena bertahan sampai batas akhir, yakni lebih 7 tahun atau 14 semester.
Realitas mahasiswa yang menempuh pendidikan selama enam hingga tujuh tahun kini bukan lagi sesuatu yang asing di dunia perguruan tinggi.
Baca juga: Mahasiswi Universitas di Jaksel Ngaku Dilecehkan Dosen, Pelaku Hanya Dinonaktifkan Sementara
Label “mahasiswa abadi” pun sering disematkan kepada mereka yang belum merampungkan studi dalam durasi yang dianggap ideal.
Di banyak kampus, keberadaan kelompok ini menjadi fenomena yang tetap hadir di tengah pergantian generasi mahasiswa, namun berada pada tahap akademik yang belum juga usai.
Mahasiswa dengan masa studi panjang kerap tak lepas dari penilaian sosial yang berkembang di sekitarnya.
Mereka acap dipandang tertinggal dari rekan seangkatan yang telah lebih dulu lulus, bahkan sering dijadikan bahan perbandingan dalam lingkungan.
Di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada tekanan yang tidak ringan, mulai dari batas waktu studi yang semakin dekat hingga tuntutan untuk segera menuntaskan pendidikan.
Kisah Jian Aditya (25), seorang mahasiswa yang telah menjalani kuliah selama hampir tujuh tahun, menjadi salah satu potret dari fenomena tersebut.
Ia kini berada di titik krusial dalam perjalanan akademiknya, dengan sisa waktu yang semakin terbatas untuk menyelesaikan studinya.
Jian mengaku masa studinya kini sudah memasuki tahun keenam dan bersiap menuju tahun ketujuh. Ia menyadari posisinya yang berada di ujung batas masa studi.
“Besok tuh tahun terakhir berarti gue kalau besok enggak lulus berarti ya sudah," kata Jian saat berbincang dengan Kompas.com di kawasan Tanah Sareal Bogor, Senin (6/4/2026).
Secara akademik, ia sebenarnya tidak mengalami banyak kendala di awal. Mata kuliah berhasil diselesaikan dengan cukup cepat, bahkan beban SKS telah terpenuhi untuk melanjutkan ke tahap skripsi.
Baca juga: PKL Jakarta Cosplay Jadi Pejabat hingga Tokoh Anime, Strategi Bertahan dan Perlawanan Simbolik
Namun, justru pada fase transisi menuju tugas akhir, hambatan mulai terasa. Ia menyebut masih harus menyelesaikan beberapa tahapan akademik.
“Enggak, gue tuh tinggal magang, kolokium, baru skripsi. Kalau SKS tuh udah cukup buat skripsi Karena kan gue ngambilnya tuh banyak-banyak banget," ucap dia.
Jian pun menuturkan, titik awal keterlambatan studinya mulai terasa sejak memasuki semester tujuh, yang seharusnya menjadi fase krusial untuk melangkah ke tahap akhir perkuliahan.
Pada periode tersebut, ia sebenarnya sudah berada di jalur untuk mengikuti kolokium sebagai bagian dari proses menuju skripsi.
Namun, karena kewajiban magang belum terpenuhi, proses akademiknya tidak bisa berlanjut sesuai rencana.
Alhasil, semester yang seharusnya menjadi pintu masuk menuju tahap akhir justru terpakai untuk menuntaskan sisa mata kuliah. Kondisi ini membuat alur studinya bergeser dan memperpanjang waktu kelulusan.
Organisasi Kampus dan Pilihan yang Berujung DilemaSalah satu faktor utama yang membuat studinya terhambat adalah keterlibatannya dalam organisasi kampus, khususnya dalam mengurus berbagai event.
“Cuman tuh, ya gue kuliah lancar-lancar aja," kata dia.
Namun, seiring waktu, fokusnya bergeser. Aktivitas organisasi yang awalnya menjadi wadah pengembangan diri justru menyita perhatian lebih besar dibandingkan kuliah.
“Dan mungkinnya juga karena gue tuh terlalu sibuk sama organisasi kampus, ngurus event, jadinya enggak kepegang tuh kuliah gue," ungkap dia.
Baca juga: Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini…: Gimik Receh atau Strategi Jenius?
Keputusan untuk tetap aktif di organisasi bukan tanpa alasan. Jian melihat pengalaman tersebut sebagai jalan menuju karier yang ia impikan.
“Karena sebenarnya kan gue tuh dulunya tuh pengen banget jadi event organisator atau nge-marketing komunikasi. Nah, si event ini tuh pintu gue buat kesana," katanya.
Namun, pilihan itu datang dengan konsekuensi.
“Cuman yang jadi korbannya adalah kuliah gue," kata dia.
Tekanan, Burnout, dan Kehilangan ArahPerjalanan yang berlarut-larut juga berdampak pada kondisi mental. Jian mengaku sempat mengalami kelelahan emosional ketika menghadapi berbagai hambatan dalam studinya.
Melihat teman-teman seangkatan lulus lebih dulu seperti menjadi tekanan tersendiri. Ia juga sempat kehilangan motivasi untuk melanjutkan kuliah.
“Bahkan kalau misalkan ditanya, gue udah kehilangan motivasi enggak buat lanjut kuliah? Udah, segala macem," katanya.
Namun, di tengah kondisi tersebut, dukungan dari lingkungan sekitar menjadi faktor penting yang membuatnya bertahan.
Selain itu, faktor keluarga juga menjadi pemicu kuat, terutama setelah kehilangan sosok ayah.





