Kecerdasan buatan (AI) kini membayangi para pekerja dengan potensi mengambil alih tugas-tugas yang selama ini dikerjakan manusia.
Sejumlah perusahaan, khususnya di sektor teknologi, bahkan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), untuk memangkas staf sekaligus mengalokasikan ratusan miliar dolar demi pengembangan AI.
Beberapa perusahaan besar seperti Microsoft, Amazon, Block, Meta, hingga Oracle dilaporkan melakukan pengurangan karyawan.
Langkah ini diambil dengan alasan AI dinilai mampu mengambil alih sebagian pekerjaan, sekaligus sebagai upaya perusahaan untuk lebih fokus mengembangkan teknologi tersebut yang membutuhkan biaya besar, sehingga efisiensi menjadi pilihan yang tak terhindarkan.
CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon turut memperingatkan kecerdasan buatan mulai mengancam peran tenaga kerja, seiring kemampuannya menggantikan pekerjaan manusia di berbagai sektor.
Dalam suratnya kepada pemegang saham, Dimon menegaskan AI “pasti akan menghilangkan beberapa pekerjaan,” terutama jika perkembangannya berlangsung terlalu cepat dan melampaui kemampuan pekerja untuk beradaptasi.
Pemimpin bank tersebut juga memberikan pesan kepada generasi muda di era AI, yakni pentingnya memiliki kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ).
Ia menilai, kemampuan teknis saja tidak cukup untuk bertahan di tengah perubahan besar yang dibawa teknologi.
Sejumlah CEO juga telah menekankan pentingnya pekerja untuk menambah keterampilan dalam memberi arahan, sebagai bagian dari kemampuan profesional mereka.
Mengutip Fortune, ketika ditanya bagaimana kaum muda dapat unggul di era AI, Dimon menegaskan pentingnya memaksimalkan sisi kemanusiaan.
Belajar, menurutnya, tetap menjadi hal nomor satu yang harus dilakukan.
“Bicaralah dengan semua orang. Miliki rasa ingin tahu yang mendalam tentang dunia,” kata Dimon, dikutip pada Selasa (7/4/2026).
Ia menambahkan, “Belajarlah untuk berpikir sepanjang waktu, dan kemudian belajarlah untuk memiliki EQ."
"EQ adalah, apakah saya bisa berkomunikasi? Apakah saya memiliki hati? Apakah orang-orang mempercayai saya?”
Dimon kembali menegaskan pentingnya etos kerja dan tujuan hidup.
“Berbicaralah dengan semua orang. Miliki rasa ingin tahu yang mendalam tentang dunia,” katanya. “Belajarlah untuk memiliki etos kerja, belajarlah untuk memiliki tujuan.”
Ke depan, Dimon memprediksi pasar kerja akan terus berkembang, meskipun ia mengakui adanya ketidakpastian dalam jangka pendek.
“Kehidupan mereka (generasi muda) akan lebih kompleks daripada kehidupan kita."
"Mereka akan memiliki lebih banyak pekerjaan dan urusan daripada kita, mereka akan lebih sering berpindah tempat,” ulas Dimon.
Dalam menghadapi potensi gangguan di pasar tenaga kerja akibat AI, Dimon menekankan pentingnya langkah konkret seperti pelatihan ulang dan pembatasan PHK.
Ia menilai, pengembangan keterampilan interpersonal saja tidak cukup, melainkan perlu dukungan dari dunia usaha dan pemerintah.
Ketika ribuan pekerja kehilangan pekerjaan akibat mesin AI, Dimon mengusulkan solusi untuk menjaga stabilitas pasar tenaga kerja.
“Saya punya rencana untuk melatih ulang orang-orang, merelokasi orang-orang, dan memberikan bantuan pendapatan kepada orang-orang,” ujarnya dalam pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss.
Ia juga memperingatkan potensi dampak sosial yang serius jika AI diterapkan tanpa kesiapan.
Menurutnya, kerusuhan bisa terjadi apabila banyak profesi tergantikan secara tiba-tiba, dan jutaan orang kehilangan pekerjaan mereka.
Baca Juga: Data Center AI Rp509 Triliun Terancam, Iran Bidik Proyek Stargate di Abu Dhabi
Karena itu, Dimon menegaskan, penerapan AI harus dilakukan secara bertahap, disertai program pelatihan ulang agar tenaga kerja tetap relevan.
Ia bahkan mendorong pemerintah daerah memberikan insentif pelatihan serta menerapkan pembatasan PHK, termasuk di perusahaannya sendiri. (*)




