PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food mengakui sudah mulai mengalami kesulitan mencari kemasan plastik untuk produk mereka. Hal ini karena terdapat masalah pada pasokan biji plastik.
Sebelumnya harga plastik di Indonesia memang mengalami kenaikan. Seretnya pasokan bahan baku plastik global karena perang di Iran menjadi penyebabnya.
“Selain itu, kami kesulitan yang sekarang lagi viral, bukan lagi viral, lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan. Jadi di semua pabrik-pabrik itu sudah mulai terasa kelangkaan biji plastik,” kata Direktur Utama ID Food, Ghimoyo dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Selasa (7/4).
Menurutnya, permasalahan di kemasan ini memang terasa di sektor pangan. Hal ini karena masalah tersebut berdampak langsung pada beberapa produk seperti beras dan minyak yang juga menggunakan kemasan plastik.
“Ini lebih krusial karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik. Lalu kemasan-kemasan kiloan, kemasan minyak goreng juga menggunakan bahan yang sama,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik, khususnya naphta, dari kawasan Timur Tengah.
“Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah naphta. Naphta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor KSP, Istana, Jakarta, Rabu (1/4).
Ia menegaskan, konflik yang melibatkan Iran membuat rantai pasok terganggu dan berdampak langsung pada harga plastik di dalam negeri. Tak hanya Indonesia, gangguan ini juga dirasakan oleh sejumlah negara lain di Asia. Budi menyebut beberapa produsen di Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, hingga Thailand mengalami kondisi force majeure.
“Sehingga yang kita impor plastik pun juga sedikit terganggu,” jelasnya.
Selain itu, Indonesia Packaging Federation (IPF) juga menyebut kenaikan harga bahan baku kemasan juga akan berdampak pada harga kemasan fleksibel seperti kemasan minyak goreng, beras dan lainnya. Adapun kenaikan harga kemasan bisa mencapai 40 persen.
Direktur Eksekutif IPF, Henky Wibawa, menjelaskan hal ini merupakan dampak perang di mana arus pasokan terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
“Porsi biaya bahan baku berkisar 50-70 persen dari biaya total kemasan. Nah, kalau kenaikan harga bahan baku itu minimal 80 persen, maka biaya kemasan akan naik paling tidak 50 persen x 80 persen=40 persen,” kata Henky kepada kumparan.
Dengan kondisi ini, Henky menilai situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk industri kemasan. Maka dari itu, ia berharap agar ada kolaborasi dan inovasi antara produsen kemasan dengan pemilik merek.





