Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan penerimaan pajak dari implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai 3-5 persen dari pagu program tersebut yang dianggarkan sebesar Rp335 triliun.
Ia mengatakan, pengenaan pajak tersebut dipotong langsung dari anggaran yang disalurkan.
“Untuk MBG, penerimaan pajaknya sekitar 3-5 persen dari total anggaran direalisasikan, 3-5 persen dari total anggaran direalisasikan itu (langsung) masuk ke pajak,” kata Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa, 7 April 2026.
Meskipun ia menilai pemotongan pajak tersebut cukup signifikan, ia menyatakan kontribusi penyelenggaraan Program MBG yang berdampak langsung terhadap perekonomian nasional adalah melalui pembukaan lapangan kerja.
Baca Juga :
Menkeu Purbaya Sebut Daya Beli Masyarakat Masih Tinggi(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)
Ia mengatakan program tersebut juga mendukung penguatan stabilitas ekonomi masyarakat agar tidak goyah di tengah tekanan akibat kondisi geopolitik yang semakin tidak menentu.
“Ketika aktivitas ekonomi hidup, (penerimaan) pajaknya akan lebih banyak dari angka tiga persen itu. Dan sekaligus di daerah-daerah itu kan (MBG) menciptakan lapangan kerja, itu menciptakan stabilitas sendiri. Itu yang paling mahal dampaknya, yang paling berharga dampaknya untuk kita,” ujar Purbaya.
Meskipun demikian, ia menyadari bahwa implementasi program tersebut masih membutuhkan perbaikan agar dapat berjalan lebih efisien dan pemanfaatannya lebih optimal bagi para penerima. Realisasi serapan program MBG capai Rp44 triliun Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara melaporkan realisasi serapan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 9 Maret 2026 telah mencapai Rp44 triliun.
Realisasi tersebut sekitar 13,1 persen dari total anggaran program MBG dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan Rp335 triliun. Program ini telah menjangkau 61,62 juta penerima dengan didukung 25.082 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Dalam konferensi pers APBN KITA Edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu, Suahasil merinci dari total penerima tersebut, sekitar 49,9 juta merupakan siswa, sementara 10,5 juta lainnya berasal dari kelompok nonsiswa.
"Karena MBG itu kan ada yang untuk siswa di sekolah. Untuk siswa, kita pada bulan Februari ini sekitar 50 juta (penerima), dan 10,5 juta penerima yang nonsiswa," ujar dia.




