Sepeda berwarna pink menjadi cikal bakal perkenalan Fiorenza Prianggo dengan lintasan BMX. Di usianya yang baru 16 tahun, siswi SMP Negeri 6 Yogyakarta yang kini tergabung dalam YC BMX Racing School itu bercerita tentang perjuangannya meraih podium Kejurnas 2024.
Di masa kanak-kanaknya, Fiorenza Prianggo tidak pernah bermimpi menjadi atlet sepeda. Ia hanya ingin punya sepeda berwarna pink. Siapa sangka, keinginan itu membawanya berkenalan dengan lintasan BMX hingga meraih podium di kejuaraan nasional.
Semua bermula saat Fiorenza berusia lima tahun. Sepulang dari gereja, ayahnya mengajaknya mampir ke lapangan BMX untuk melihat orang-orang berlatih. Fiorenza tertarik, bukan pada balapnya, melainkan pada satu sepeda berwarna pink yang dipakai salah satu anak yang berlatih.
"Aku pengen punya sepeda warna pink," kata Fiorenza, kepada tim Pandangan Jogja, Jumat (27/3).
Ayahnya menangkap keinginan tersebut dan membujuknya untuk ikut latihan, dengan janji akan membelikan sepeda serupa. Fiorenza setuju.
"Awalnya aku cuma pakai sepeda seadanya. Terus habis itu ayah belikan lagi sepeda terus dicat warna pink. Aku semakin semangat," ujar Fiorenza.
Fiorenza tidak langsung mahir begitu mengenal lintasan. Ia memulai perjalanan itu sebagaimana anak-anak lainnya: baru kenal sepeda, baru belajar, jatuh, dan bangkit lagi. Yang membedakan Fiorenza dengan anak-anak lain bukanlah bakat bawaan, melainkan caranya merespons setiap tantangan dalam proses belajar. Kelebihan inilah yang sejak awal dilihat oleh pelatih Fiorenza, Tegar Allam Tsany.
"Fio itu jujur aja, secara basic atau talent, bukan sosok anak yang super talent. Cuma saya senang kegigihannya. Attitude-nya juga anak yang gampang dibina," kata Tegar.
Bagi Tegar, kegigihan dan sikap itulah yang akhirnya membentuk Fiorenza menjadi atlet seperti sekarang. Bakatnya bukan sesuatu yang datang sejak lahir, melainkan kesungguhan yang dibangun hari demi hari di lintasan.
Kegigihan itu diterjemahkan dalam rutinitas yang tidak ringan. Fiorenza berlatih enam hari dalam sepekan: Senin dan Kamis untuk gym, Selasa dan akhir pekan untuk latihan trek, serta Rabu untuk latihan fisik. Hanya Minggu yang bebas.
"Jadi, per minggu kalau untuk ukuran aku udah seminggu tuh yang libur cuma hari Minggu," kata Fiorenza.
Kerja keras itu pun diuji di lintasan. Pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2023, Fiorenza masih tertinggal dari atlet-atlet yang lebih senior. Saat itu, jarak yang dihadapinya terasa mustahil untuk dikejar.
"Di 2023 itu, Kejurnas, masih kalah sama orang yang di atas aku. Itu aku masih kalah speed lah, dan rasanya kayak ah susah nih ngejar dia, emang dia udah banter gitu," ungkapnya.
Setahun kemudian, ia kembali ke Kejurnas dengan persiapan yang berbeda. Di Kejurnas BMX Racing 2024, Fiorenza meraih posisi pertama, mengalahkan atlet yang selama ini berada jauh di atasnya.
"Akhirnya waktu race aku benar-benar enggak nyangka itu aku bisa nomor satu," ujarnya. "Ini beneran aku nomor satu? Di kejurnas lagi?" kenangnya.
Namun, perjalanan seorang atlet tidak selalu berjalan mulus. Fiorenza pernah mengalami patah tulang bahu kiri saat latihan dan harus beristirahat total selama enam bulan. Meski demikian, bagi atlet dengan kegigihan seperti Fiorenza, berhenti bukanlah pilihan.
"Udah telanjur basah, masa naik lagi gitu kan? Nanti sia-sia dong hasil usahaku selama ini. Pelan-pelan kembali lah,” katanya.
Menjadi atlet BMX bukan hanya soal fisik dan mental. Ada kebutuhan dan biayanya tidak sedikit. Seiring tubuh Fiorenza bertumbuh, sepeda yang ia gunakan pun harus ikut berganti. Satu sepeda dapat mencapai harga jutaan rupiah, dan pergantian itu terjadi berkali-kali mengikuti pertumbuhan fisiknya. Belum lagi kebutuhan perlengkapan lain yang terus bertambah seiring level kompetisi yang semakin tinggi.
Pada akhir 2025, Fiorenza menjadi salah satu dari dua atlet YC BMX yang dipilih untuk mendapatkan dukungan melalui program khusus. Program ini hadir untuk memfasilitasi atlet-atlet muda berbakat agar dapat fokus berkembang tanpa terbebani soal perlengkapan. Ia pun menerima sepeda Raptor Elite pertamanya dari Polygon.
“Nggak nyangka. Dari awal sepedanya harus berjuang buat beli. Tiba-tiba dikasih aja. Wow," ungkapnya.
Sepeda itu langsung ia bawa ke ajang ASEAN BMX di Thailand. Di kategori usia 15–16 tahun, Fiorenza menempati posisi kelima dari ratusan peserta.
"Unbelievable aja. Oh my God, udah sampai sini ya (perjalananku)," pungkas Fiorenza.





