Sejumlah warga yang tinggal dekat Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bangkonol, Pandeglang, melakukan aksi. Warga menilai buruknya manajemen di lingkungan UPT TPSA Bangkonol.
"Ini manajemen udah diganti semua, tapi makin buruk, lebih parah. Kami sering kali melakukan sidak dan sampah acak-acakan," kata warga bernama Ahmad Yani di lokasi, Selasa (7/4/2026).
Ahmad Yani mengatakan manajemen yang buruk menjadi faktor utama warga melakukan aksi demonstrasi dan pemblokiran TPSA. Sebab, menurutnya, dari faktor itu, warga mengeluhkan timbulnya bau tidak sedap karena sampah yang ditampung tidak langsung dilakukan penanganan.
"Mereka nggak serius menangani sampah, sampah lokal saja mereka nggak serius menanganinya," ucapnya.
"Bau yang ditimbulkan hampir mencapai radius 1 kilometer," imbuhnya.
Ahmad Yani menyatakan pemblokiran dilakukan agar Bupati dan Wakil Bupati Pandeglang bisa turun ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan sampah.
"Kami akan memblokir sampai Bupati mendatangi kami warga Bangkonol, untuk melakukan penandatanganan komitmen bersama," katanya.
Kabag Unit Persampahan, Helfi Apriyani Ulfah, mengaku bakal menyampaikan aspirasi warga kepada pimpinan. Namun ia menyayangkan dengan adanya pemblokiran karena sampah yang tersebar di 35 kecamatan tidak bisa terbuang.
"Saya minta ke masyarakat agar tidak menutup, nanti kalau ditutup sampah dibuang kemana," katanya.
Helfi mengatakan saat ini Pemkab Pandeglang hanya memiliki satu tempat pembuangan sampah. Jika TPSA ditutup, dalam sehari maka akan ada 9 ton sampah yang berserakan.
"Sekarang Pandeglang cuma satu tempat pembuangannya, sehari hampir 30 truk sampah, satu truk 3 ton sampah. 90 Ton per hari kalau tidak terbuang, bagaimana," tambahnya.
(idn/idn)





