Jadi Kandidat Pelatih Timnas Italia, Antonio Conte Desak Reformasi usai Gagal ke Piala Dunia Tiga Kali Beruntun

tvonenews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Antonio Conte mendesak reformasi sepak bola Italia usai kegagalan lolos ke Piala Dunia untuk tiga kali beruntun. Sang juru taktik pun menjadi kandidat pelatih baru Timnas Italia.

Gli Azzurri kembali gagal untuk tampil di putaran final Piala Dunia. Mereka kandas lewat adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina pada babak playoff.

Timnas Italia sudah melewatkan tiga edisi beruntun Piala Dunia. Penampilan terakhir mereka di turnamen ini adalah pada 2014 silam.

Gabriele Gravina telah mengundurkan diri sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) pada pekan lalu. Gennaro Gattuso menyusul beberapa hari kemudian dan kini posisi pelatih Timnas Italia kosong.

Beberapa nama besar telah dikaitkan, dengan Antonio Conte merupakan salah satu di antaranya. Padahal, Conte masih terikat kontrak dengan Napoli hingga 2027.

Sang juru taktik pernah menangani Timnas Italia pada periode 2014 hingga 2016 silam. Kini, Conte bisa kembali ke La Nazionale seiring dengan kekosongan di kursi kepelatihan.

Pada saat ini, Conte berhasil mengantarkan Napoli kembali ke papan atas Liga Italia. Partenopei berada di peringkat kedua klasemen sementara Serie A usai mengalahkan AC Milan dengan skor 1-0 pada Selasa (7/4/2026) dini hari tadi WIB.

Conte ditanyakan tentang hal tersebut setelah kemenangan atas Milan. Dia pun mengaku kecewa dengan kegagalan Azzurri.

“Sangat mengecewakan bahwa jika kami memenangkan adu penalti melawan Bosnia dan lolos ke Piala Dunia, orang-orang akan membicarakan pencapaian besar dan Italia memainkan sepak bola yang hebat. Sayangnya, hanya hasil yang dihitung dalam olahraga ini sekarang,” kata Conte, sebagaimana dilansir dari Football-Italia.

“Namun, setelah tiga Piala Dunia berturut-turut, sesuatu yang serius perlu dilakukan. Ketika saya menjadi pelatih tim nasional, banyak sekali pembicaraan, tetapi saya mendapat sedikit sekali bantuan dari klub-klub,” tambahnya.

Mantan pelatih Juventus dan Inter Milan itu menolak untuk melihat semuanya dengan pesimisme. Dia berusaha untuk melihat sisi positif namun menyadari bahwa harus ada sesuatu yang dilakukan.

“Sekarang semuanya dianggap sebagai bencana, tetapi bahkan dalam bencana, selalu ada sesuatu yang dapat diselamatkan. Kita harus memahami bahwa jika sesuatu tidak berjalan dengan baik, maka keadaannya akan tetap sama, baik kita lolos kualifikasi atau tidak,” lanjut Conte.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Setelah 10 Tahun, IU dan Byeon Woo Seok Reuni di Drama Perfect Crown
• 9 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Mandiri Taspen dan ASABRI Serahkan Santunan SRKK Kepada keluarga Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Petugas Damkar Dibegal di Gambir Jakpus, Motor dan Ponsel Raib
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Masih Banyak yang Salah Kaprah! Ini Bedanya Sertifikasi Halal dan Syariah yang Jarang Dibahas
• 24 menit laluviva.co.id
thumb
Presiden Prabowo Subianto Dorong Kampus Jadi Motor Penggerak Penataan Kota dan Solusi Perumahan Nasional
• 21 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.