AI China dan Wajah Baru Otoritarianisme

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Ketika membicarakan kecerdasan buatan di China, yang sering muncul adalah narasi tentang ambisi besar dan persaingan global. Kita mendengar soal model bahasa, chip, dan rivalitas dengan Amerika Serikat. Namun ada lapisan lain yang jarang disentuh dengan serius: bagaimana teknologi ini perlahan menyatu dengan cara negara bekerja dan mengawasi. Di titik itu, AI bukan lagi sekadar inovasi. Ia menjadi bagian dari mekanisme kekuasaan.

Kalau dibaca sepintas, kebijakan-kebijakan ini terdengar masuk akal. Negara mana pun pasti berbicara soal stabilitas dan keamanan digital. Tetapi ketika dirangkai, terlihat satu pola: AI di China berkembang di bawah kerangka kontrol yang kuat. Ia tidak dibiarkan sepenuhnya mengikuti dinamika pasar atau eksperimen bebas.

Menariknya, perubahan ini tidak terjadi secara dramatis. Tidak ada satu momen besar yang menandai “titik balik”. Ia bergerak pelan, administratif, teknokratis. Justru karena tampak biasa, ia mudah luput dari perhatian.

Jika dulu kontrol politik identik dengan sensor terang-terangan atau pembatasan fisik, kini bentuknya jauh lebih halus. Algoritma membaca kecenderungan. Data menyusun profil. Sistem analitik mencoba memperkirakan apa yang mungkin terjadi. Negara tidak hanya menunggu masalah muncul, tetapi berusaha mendahuluinya.

Di sinilah AI memberi dimensi baru. Kontrol tidak lagi sekadar responsif, tetapi bisa bersifat preventif, bahkan prediktif. Kekuasaan bekerja sebelum sesuatu menjadi krisis.

Yang juga penting, perkembangan ini tidak berhenti di dalam negeri China. Perusahaan-perusahaan teknologi China menawarkan infrastruktur digital dan sistem pengawasan ke berbagai negara berkembang. Argumennya praktis: biaya lebih terjangkau, implementasi cepat, birokrasi lebih efisien. Dalam situasi pembangunan yang mendesak, tawaran seperti ini tentu menggoda.

Namun teknologi tidak pernah benar-benar netral. Setiap sistem dibangun dengan logika tertentu tentang siapa yang mengontrol, bagaimana data dikelola, dan seberapa terbuka prosesnya. Jika fondasinya menekankan kontrol terpusat, maka pola itu bisa ikut terbawa ketika sistem tersebut diadopsi di tempat lain.

Bagi Indonesia, diskusi ini relevan. Transformasi digital memang tidak bisa ditunda. Layanan publik, keamanan siber, hingga tata kelola data membutuhkan teknologi yang andal. Tetapi penguatan kapasitas negara lewat teknologi semestinya berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan publik. Tanpa keseimbangan itu, digitalisasi bisa saja memperbesar kekuasaan tanpa memperbesar akuntabilitas.

Tentu, persoalan ini tidak hitam-putih. Negara demokrasi pun menggunakan AI untuk kepentingan keamanan. Regulasi tidak selalu berarti pembungkaman. Perbedaannya terletak pada ruang koreksi: apakah ada mekanisme bagi publik untuk menguji, mempertanyakan, dan jika perlu membatasi kebijakan tersebut?

Apa yang terjadi di China memberi gambaran tentang bagaimana kekuasaan dapat beradaptasi dengan zaman. Otoritarianisme modern mungkin tidak lagi tampil dengan simbol-simbol keras, tetapi melalui sistem yang bekerja senyap dan efisien. Bukan lagi sekadar larangan yang terlihat, melainkan struktur digital yang terus mengumpulkan, membaca, dan memproses.

Teknologi akan terus berkembang. Itu hampir tak terhindarkan. Tetapi cara ia digunakan selalu merupakan pilihan politik. Dan setiap pilihan politik, pada akhirnya, menyentuh batas antara keamanan dan kebebasan.

Mungkin pertanyaan yang paling penting bukan soal seberapa canggih AI akan menjadi. Melainkan seberapa kuat masyarakat dapat tetap menjaga ruang untuk mengawasi kekuasaan yang kini bekerja lewat baris kode dan pusat data.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Awak Artemis II Catat Rekor Baru, Takjub Jelajahi Sisi Gelap Bulan
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Lady Gaga Batalkan Konser di Kanada Akibat Infeksi Pernapasan
• 9 jam lalupantau.com
thumb
SCTV Hadirkan The Icon Indonesia, 24 Kontestan Siap Berebut Kontrak Musik
• 14 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Bocah di Tasikmalaya Dipatuk Ular Weling saat Tidur
• 28 detik lalumetrotvnews.com
thumb
Hadapi El Nino, BKPH Perkuat Pencegahan Kebakaran dan Perambahan Hutan
• 9 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.