NEW YORK, KOMPAS.TV - Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric mengatakan krisis pengungsi di Lebanon semakin parah akibat operasi pengeboman dan serangan darat Israel yang berlangsung sejak awal Maret lalu.
Dujarric mengungkapkan, jumlah pengungsi di Lebanon akibat serangan Israel telah melampaui 1,1 juta jiwa. Sebagian besar pengungsi pun mesti hidup dengan akses kebutuhan pokok yang terbatas.
"Kolega-kolega humaniter kami mengatakan lebih dari 1,1 juta pria, wanita, dan anak-anak di Lebanon kini tercatat sebagai pengungsi," kata Dujarric dalam keterangan yang dilansir laman resmi PBB, Senin (6/4/2026).
"Lebih dari 137.000 penduduk, sepertiga di antaranya anak-anak, mengungsi di hampir 700 tempat pengungsian bersama, kebanyakan di sekolah."
Baca Juga: Senator AS Desak Trump Dilengserkan usai Ancam Hancurkan Infrastruktur Sipil Iran
Dujarric menambahkan, serangan Israel telah merusak infrastruktur-infrastruktur vital seperti pompa air bersih.
Menurutnya, PBB melalui UNICEF telah menyalurkan bantuan sebanyak 280.000 liter BBM untuk menunjang sumur pompa air di Lebanon.
Selain itu, PBB juga menyalurkan lebih dari tiga juta makanan serta 65.000 parsel makanan untuk para pengungsi. Namun, bantuan itu disebutnya tidak cukup, mengingat banyaknya jumlah pegungsi.
"Korban manusia terus bertambah dalam tingkat yang mengkhawatirkan, berdampak khsusunya ke anak-anak. Kami dan para mitra senantiasa bekerja sama dengan pemerintah Lebanon membantu pengungsi di tengah kebutuhan yang melonjak," kata Dujarric.
Konflik di Lebanon kembali meletus usai Hizbullah dan Israel saling serang pada awal Maret lalu. Hizbullah menyerang Israel sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- krisis pengungsi lebanon
- lebanon
- serangan israel ke lebanon
- krisis lebanon
- perang iran





