JAKARTA, KOMPAS.com – Kenaikan harga plastik yang terjadi sejak awal Ramadhan 2026 masih terus berlanjut dan diperkirakan belum akan turun dalam waktu dekat.
Lonjakan harga ini dipicu gangguan rantai pasok global, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, hingga ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor.
Kondisi tersebut mulai menekan pelaku usaha, khususnya UMKM, dan berpotensi merambat ke kenaikan harga barang konsumsi.
Kenaikan harga plastik masih menjadi persoalan yang membuat banyak pihak resah, baik pedagang maupun pembelinya yang merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Baca juga: Pedagang Peyek dan Bakso Menjerit Harga Plastik Mahal: Mau Dibungkus Pakai Tangan?
Sejumlah pedagang mengaku kenaikan harga plastik di pasaran sudah terjadi sejak awal bulan Ramadhan 2026. Namun, sampai saat ini harganya belum mengalami penurunan, bahkan terus melonjak setiap hari.
"Jadi, setiap hari naik terus yang enggak naik seminggu sebelum puasa dan seminggu pas puasa, sesudah itu naik terus karena Selat Hormuz belum dibuka lagi, sedangkan biji plastik terbuat dari minyak," ungkap salah satu pedagang plastik, Nando (48), saat diwawancarai Kompas.com di Pasar Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).
Pedagang itu memprediksi kenaikan harga plastik akan terus terjadi hingga pertengahan tahun 2026.
Bisa sampai satu tahunNamun, menurut Pakar Ekonomi M Rizal Taufikurahman, kenaikan harga plastik di pasaran bukan bersifat sementara.
Gangguan rantai pasok global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya memengaruhi distribusi, tetapi juga produksi, termasuk terganggunya kilang minyak di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, minyak masih menjadi bahan baku utama dalam pembuatan plastik.
Pasokan nafta atau bahan baku utama plastik secara global juga sangat didominasi negara-negara yang tengah berkonflik. Dengan begitu, pemulihan harga plastik di pasaran tidak akan instan seperti komoditas lain.
"Artinya, ini bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan fase volatilitas yang bisa berlangsung beberapa bulan hingga satu tahun," tutur Rizal ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Baca juga: Nestapa Pedagang Plastik di Tengah Lonjakan Harga, Omzet Anjlok hingga Diprotes Pembeli
Perang bukan penyebab tunggalPerang di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz bukan menjadi satu-satunya penyebab melonjaknya harga plastik.
Keduanya memang menjadi pemicu utama kenaikan harga plastik secara global, namun permasalahannya dinilai lebih mendalam.
"Akar persoalannya jauh lebih dalam, yakni ketergantungan sistemik terhadap bahan baku impor," sambung dia.
Saat ini, sekitar 50 hingga 60 persen bahan baku plastik di Indonesia masih bergantung pada impor. Di sisi lain, kapasitas domestik belum mampu memenuhi kebutuhan industri secara penuh.
Sebagian besar pasokan bahan baku tersebut juga berasal dari kawasan yang saat ini terdampak konflik. Hal ini menjelaskan mengapa harga domestik sangat sensitif terhadap gejolak global.
Rizal mengatakan, berdasarkan data terbaru harga nafta melonjak sekitar 40 hingga 45 persen dalam satu bulan terakhir.




