Kolaborasi strategis bersama IPB terbentuk dalam penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Kapasitas Sistem Rantai Pasok dan Model Kemitraan Penyediaan Bahan Baku Kelapa melalui Kerja Sama Pentahelix.”
FGD ini menjadi wadah dialog multipihak untuk berbagi perspektif dan merumuskan strategi penguatan rantai pasok kelapa yang adaptif, berkelanjutan, dan inklusif. Inisiatif tersebut sejalan dengan peran Sasa sebagai pelaku industri yang mengelola fasilitas pengolahan kelapa di Minahasa Selatan, sekaligus mengembangkan berbagai program pemberdayaan petani guna meningkatkan kualitas panen dan daya saing produk berbasis kelapa. Kelapa komoditas strategis penopang ekonomi daerah Kelapa merupakan komoditas strategis bagi industri pangan Indonesia serta sumber penghidupan utama bagi ribuan petani. Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Minahasa Selatan, tercatat sebagai salah satu sentra produksi kelapa nasional dengan luas perkebunan mencapai 47.164 hektar dan total produksi sekitar 42.209 ton per tahun.
Potensi ini menjadikan kelapa sebagai tulang punggung perekonomian daerah dan penopang mata pencaharian masyarakat setempat. Namun, meningkatnya aktivitas industri pengolahan di wilayah sentra produksi turut memicu persaingan bahan baku, yang berdampak pada stabilitas pasokan dan fluktuasi harga di tingkat petani.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penguatan sistem rantai pasok kelapa yang mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan industri dan keberlanjutan kesejahteraan petani.
Baca juga: Resiliensi Rendah Ancam Kelangsungan Usaha Kelapa di Aceh, Penelitian Doktor IPB Ungkap Penyebabnya
“Kelapa bukan hanya bahan baku industri, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, penguatan rantai pasok harus dirancang secara komprehensif agar mampu menjawab tantangan pasar sekaligus memberi nilai tambah yang adil bagi petani,” ujar Chief Manufacturing Officer PT Sasa Inti, H. Snowerdi Sumardi dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 April 2026.
Komitmen Sasa pada keberlanjutan ekosistem kelapa Sejalan dengan Sasa Sustainability Framework, kerangka kerja keberlanjutan yang diterapkan di seluruh rantai nilai perusahaan, Sasa telah merintis program pemberdayaan petani kelapa di Minahasa Selatan sejak 2024.
Program ini dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk membangun ekosistem kelapa yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Melalui pengoperasian fasilitas pengolahan kelapa yang memanfaatkan hasil panen lokal, Sasa
menempati posisi strategis dalam menghubungkan produksi di tingkat petani dengan industri hilir.
Kehadiran fasilitas tersebut mendorong proses hilirisasi, memperkuat nilai tambah komoditas kelapa, serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk olahan dalam negeri.
“Bagi Sasa, keberlanjutan rantai pasok tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan petani. Karena itu, kami mendorong kemitraan jangka panjang yang berfokus pada peningkatan produktivitas, kualitas panen, dan kepastian serapan hasil petani,” jelas Head of Stakeholder Relation PT Sasa Inti, Rida Atmiyanti.
Program pemberdayaan ini mencakup penguatan kemitraan hulu-hilir, edukasi agronomi berbasis praktik modern, serta pendampingan petani dalam menjaga kesinambungan pasokan.
Dengan pendekatan tersebut, penguatan rantai pasok kelapa diharapkan dapat berkontribusi langsung terhadap ketahanan industri sekaligus pembangunan ekonomi lokal. Pentingnya kolaborasi multipihak FGD ini diselenggarakan secara hybrid, dengan pertemuan luring di kawasan Taman Kencana, Bogor, serta partisipasi daring dari Manado dan Minahasa Selatan.
“Penguatan rantai pasok kelapa memerlukan pendekatan berbasis data, riset, dan kemitraan yang setara. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan kerangka ilmiah untuk mendukung kebijakan dan praktik di lapangan,” ujar Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian dalam bidang ilmu Pertanian Berkelanjutan, Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, MS.
Senada dengan hal tersebut, IPB memandang kolaborasi dengan industri sebagai langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi berbasis riset.
“Kolaborasi IPB dan Sasa merupakan contoh kemitraan akademisi–industri yang dapat memperkuat daya saing komoditas kelapa sekaligus mendorong kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” ungkap Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Manajemen dalam bidang Ilmu Kebijakan Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Berkelanjutan, Institut Pertanian Bogor,Prof.
Dr. A. Faroby Falatehan, SP, ME.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)





