Surat Kecil di Halaman Tengah, dan Hal-Hal yang Tak Pernah Kami Ucapkan

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Angin di Desa Arung selalu datang tanpa suara. Ia tidak pernah benar-benar terasa, tapi selalu ada menyusup di sela dinding papan, menyentuh lampu minyak, dan kadang membawa sisa-sisa percakapan yang belum selesai.

Rumah kami berdiri berjajar, tapi tidak rapat. Ada jarak sekitar lima rumah yang membuat setiap langkah menuju rumah sebelah terasa seperti perjalanan kecil. Di sela-sela jarak itu ada kebun, ada jemuran, ada anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki, dan ada sore-sore panjang yang tidak pernah benar-benar ingin berakhir.

Kami datang ke desa itu sebagai relawan. Tidak dengan gagah, tidak pula dengan rencana besar yang rumit. Hanya dengan niat sederhana membantu anak-anak petani dan nelayan agar punya ruang belajar tambahan ruang yang lebih santai, lebih dekat, dan kadang lebih jujur daripada ruang kelas mereka di sekolah.

Setiap sore, kami berkumpul di teras rumah panggung. Buku-buku tipis dibuka, pensil dibagikan, dan suara anak-anak memenuhi udara. Ada yang masih terbata membaca, ada yang tertawa saat salah menjawab, ada juga yang diam tapi matanya penuh rasa ingin tahu.

Di antara kami, Aurel hadir dengan caranya sendiri. Ia mengajar bahasa Inggris di madrasah, tapi di sore hari ia sering ikut membantu. Cara bicaranya berbeda halus, teratur, dan kadang membuat anak-anak menirukan logatnya sambil tertawa.

“Repeat after me,” katanya suatu sore. Anak-anak mengikuti, berantakan tapi penuh semangat. Aku berdiri di belakang, memperhatikan. Tidak banyak yang istimewa saat itu. Semua terasa biasa. Terlalu biasa, sampai kami tidak sadar bahwa hari-hari seperti itu kelak akan menjadi sesuatu yang mahal untuk diingat.

Malam hari, kami kembali ke rumah kontrakan. Kopi, obrolan, dan nama yang selalu muncul tanpa diminta. “Aurel itu kalau bicara, bukan orang sini,” kata Bahar.

“Iya, logatnya beda,” sahut Adi.

“Kayaknya orang kota,” tambah Wahyu.

Aku hanya tersenyum. Bukan karena tidak setuju, tapi karena semua itu terasa ringan. Tidak ada yang benar-benar ingin memastikan siapa dia sebenarnya. Cukup tahu bahwa ia ada, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat malam terasa hidup.

Sesekali aku menitip salam lewat Enna gadis yang tinggal serumah dengannya.

“Kalau ketemu Aurel, bilang saja… jangan sering-sering kasih tugas berat ke anak-anak,” kataku suatu sore.

Enna menatapku, lalu tersenyum lebar. “Itu alasanmu saja biar bisa titip salam.” Aku tidak membantah.

Suatu hari aku meminjam buku darinya. Buku bahasa Inggris, tipis, dengan beberapa halaman yang dilipat kecil di ujungnya. Tidak ada yang istimewa. Hanya buku yang berpindah tangan, seperti banyak hal lain di desa itu.

Sampai beberapa hari kemudian, saat aku membukanya di malam yang sepi. Di halaman tengah, terselip selembar kertas. Tulisan tangan yang langsung kukenal.

“I so hope, keep your health and don’t stay up all night… please.”

Aku membacanya sekali. Lalu sekali lagi. Dan entah kenapa, kalimat itu terasa lebih panjang dari yang tertulis. Seolah ada sesuatu yang sengaja tidak ditulis, tapi tetap ingin disampaikan.

Malam itu, aku tidak banyak bicara. Teman-teman masih seperti biasatertawa, menyebut namanya, mengulang cerita-cerita kecil yang sebenarnya tidak penting.

Aku hanya diam, menyimpan satu kalimat itu dalam-dalam. Beberapa hari kemudian, kami bertemu di halaman rumah. Tidak ada momen khusus. Tidak ada suasana yang sengaja diciptakan. Hanya kebetulan yang terasa seperti sudah direncanakan.

“Aurel,” panggilku.

“Iya?”

“Kamu ini ya… kenapa harus pakai surat segala?” Ia menatapku sebentar, lalu tersenyum tipis.

“Supaya kamu baca pelan-pelan… bukan cuma dengar lalu lupa.”

“Aku nggak pelupa.”

“Iya… tapi kamu suka begadang.”

Aku tertawa kecil. “Kamu juga tahu rupanya.”

“Kan aku bilang… jaga kesehatanmu.”

“Hanya itu?” Ia terdiam sejenak. Angin lewat pelan, menggoyangkan ujung jilbabnya.

“Hanya itu… tapi maksudnya banyak.”

“Banyak bagaimana?”

“Ya… jangan sampai kamu sakit,” katanya pelan, “nanti… siapa yang ajak kami cerita malam-malam lagi?”

Aku menatapnya. “Kami… atau kamu?”

Ia mengalihkan pandangan, lalu tersenyum singkat.

“…ya sudah, kamu saja.”

Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa. Kami tetap mengajar anak-anak petani dan nelayan. Tetap duduk di teras, tetap tertawa saat mereka salah mengeja, tetap bangga saat mereka mulai berani membaca keras-keras.

Tapi ada yang berubah meski tidak pernah benar-benar diucapkan. Kadang, saat sore mulai turun, aku melihatnya dari kejauhan. Dari lima rumah yang memisahkan kami, ia tampak kecil, tapi cukup jelas untuk dikenali. Dan entah kenapa, jarak itu terasa pas.

Tidak terlalu dekat untuk menjadi milik, tidak terlalu jauh untuk dilupakan. Waktu, seperti biasa, tidak pernah meminta izin. Pengabdian selesai.

Kami pulang ke arah masing-masing. Jalan yang dulu terasa sama, tiba-tiba bercabang tanpa tanda. Aku kembali ke desa asalku. Ia ke ibu kota. Rumah-rumah itu masih berdiri. Anak-anak itu mungkin sudah tumbuh. Suara sore mungkin masih ada. Tapi kami tidak lagi di sana.

Yang tersisa, hanya hal-hal kecil yang tidak sempat dibawa pergi. Seperti buku pinjaman itu. Seperti selembar kertas di halaman tengah. Dan seperti kebiasaan lama sesekali membuka kembali, membaca ulang, lalu tersenyum sendiri.

Malam ini, angin terasa sama tenang, seperti dulu, seperti tidak pernah benar-benar pergi dari Desa Arung. Aku tidak sedang mencarinya. Hanya membuka arsip lama, tumpukan foto dan catatan yang sudah lama kusimpan tanpa alasan. Lalu, tanpa sengaja, kertas itu muncul kembali terlipat tipis, sedikit pudar, tapi masih menyimpan hal yang sama.

Aku membacanya pelan. “Don’t stay up all night…” Dan entah bagaimana, cerita ini ikut terbuka bersamanya. Aneh, dari sekian banyak percakapan yang pernah kami miliki yang penuh tawa, yang kadang setengah serius justru satu kalimat sederhana itu yang bertahan paling lama.

Bukan karena ia paling indah. Mungkin karena ia tidak pernah mencoba menjadi apa-apa. Seperti kami dulu. Dekat, tapi tidak pernah meminta untuk lebih. Kini, semuanya sudah berjalan ke arah masing-masing. Hidup sudah menemukan jalannya sendiri.

Dan mungkin, jika suatu hari ia membaca cerita ini… ia akan tersenyum, seperti aku sekarang. Tidak lebih dari itu. Dan memang, tidak perlu lebih dari itu.

Dede Leman - Makassar, 01 April 2026


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gunung Slamet Naik Status Waspada, 21 Pendaki Turun via Jalur Baturaden
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Viral Duel Sengit 2 Wanita di Parepare Rebutan Pria, Jadi Tontonan Warga
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Manfaat Rutin Minum Teh Hijau Campur Lemon Setiap Pagi
• 42 menit lalubeautynesia.id
thumb
Pemerintah Investasikan Rp3 Triliun untuk Pengelolaan PSEL di Makassar
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ketua Banggar DPR Tolak Usulan JK Kurangi Subsidi BBM: Kenapa untuk Orang Miskin Diotak-atik?
• 18 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.