Dalam memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia yang jatuh setiap tanggal 2 April, momen ini jadi pengingat penting untuk lebih memahami tumbuh kembang si kecil, termasuk mengenali perbedaan antara autisme dan down syndrome. Meski sering dianggap serupa, nyatanya kedua kondisi ini memiliki karakteristik yang berbeda.
Masih banyak orang yang keliru membedakan autisme dan down syndrome. Padahal, pemahaman yang tepat sangat penting agar bisa memberikan stimulasi, dukungan, dan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan anak sejak dini.
Penjelasan Dokter Bedanya Down Syndrome dan AutismeDokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi, dr. Arifianto, Sp.A(K), menjelaskan bahwa down syndrome dan autisme adalah dua kondisi yang berbeda dan tidak bisa disamakan.
“Down syndrome berbeda dengan autisme, dan ini penting dipahami karena masih banyak yang tertukar,” jelas dr. Arifianto, Sp.A(K) pada wartawan, Sabtu (4/4).
Menurutnya, anak dengan down syndrome umumnya mengalami keterlambatan perkembangan di hampir semua aspek.
“Sejak awal, hampir semua aspek perkembangannya terlambat, tidak hanya bicara dan bahasa, tetapi juga motorik, fisik, seperti berjalan, dan lain-lain,” ujarnya.
Sementara itu, anak Autism Spectrum Disorder (ASD) biasanya memiliki perkembangan motorik yang normal.
“Kalau ASD itu yang terlambat kemampuan bicara dan bahasanya,” tambahnya.
ASD juga sudah bisa dicek atau dikenali sejak usia 12 hingga 18 bulan. Tapi jika sudah lebih dari itu bisa dikatakan terlambat.
Ia juga menambahkan bahwa deteksi dini ini bisa dibantu menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang diberikan gratis di fasilitas kesehatan.
Apakah Down Syndrome Bisa Dicegah?Banyak juga orang bertanya, apakah down syndrome bisa dicegah sejak sebelum kehamilan? Menurut dr. Apin kondisi ini tidak dapat dicegah.
“Down syndrome atau kelainan kromosom Trisomi 21 tidak bisa dicegah. Karena kondisi ini baru diketahui ketika sudah terjadi kehamilan,” jelas dr. Arifianto.
Bahkan di negara maju sekalipun, pemeriksaan hanya bisa mendeteksi, bukan mencegah atau mengubah kondisi genetik tersebut.





