REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla memberikan klarifikasi terkait tudingan dan framing negatif yang beredar di media sosial terhadap langkah diplomasi PBNU di tengah perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Gus Ulil menegaskan, PBNU mengambil peran melalui jalur diplomasi “soft” atau diplomasi lunak guna menyuarakan aspirasi perdamaian. Upaya ini dilakukan bersama Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, dengan mengunjungi tiga kedutaan besar negara yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam konflik tersebut, yakni Kedutaan Besar Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
Baca Juga
Mau Liburan Tanpa Ganggu Cash Flow? Financial Planner Bagi Cara Alokasi Idealnya
Berusia 105 Tahun, Marsiah Jadi Calon Haji Tertua asal Kediri
Peradilan Militer Dinilai Berpotensi Menjadi Court of Impunity
Menurut Gus Ulil, kunjungan ke tiga kedutaan tersebut sebetulnya ditujukan untuk menyampaikan aspirasi PBNU terkait konflik yang terjadi. Selain itu, kata dia, PBNU ingin mendapatkan informasi langsung dari mereka mengenai situasi yang terjadi dan versi resmi dari masing-masing negara.
"Kunjungan ke tiga kedutaan besar negara-negara yang terlibat di dalam perang Iran-Israel ini sebetulnya ditujukan pertama untuk menyampaikan aspirasi PBNU sebagai lembaga kepada tiga negara ini," ujar Gus Ulil dalam Diskusi Pojok Kramat "Peran NU dalam Perdamaian Dunia" yang digelar Lakpesdam di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut dia, langkah ini penting agar PBNU tidak hanya bergantung pada informasi dari media massa, tetapi juga memperoleh gambaran yang lebih utuh dan berimbang dari pihak-pihak terkait.
Tangkapan layar Pengurus PBNU berfoto bersama Dubes Amerika Serikat - (PCNU Jakarta Barat)