Road to ISF 2026, Pemerintah Perkuat Kolaborasi Multipemangku Kepentingan untuk Keberlanjutan

tvrinews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Ricardo Julio

TVRINews, Jakarta

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar, Rachmat Kaimuddin, menegaskan pentingnya penguatan hilirisasi sumber daya alam serta kolaborasi multipemangku kepentingan dalam mendorong investasi berkelanjutan di Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Road to Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta.

Dalam paparannya, Deputi Rachmat menyampaikan Indonesia memiliki keunggulan berupa kekayaan sumber daya alam yang perlu dikelola secara optimal untuk memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional sekaligus berkontribusi pada kebutuhan global.

"Indonesia memiliki berbagai sumber daya, seperti batu bara, gas alam, serta komoditas strategis. Kita memahami sebagian dari sumber daya ini perlu diekspor dan dibagikan ke dunia," ujar Deputi Rachmat dalam keterangannya pada, Selasa 7 April 2026.

Ia mencontohkan Indonesia saat ini memproduksi sekitar 50 persen nikel dunia, namun kontribusi dalam industri hilir global masih relatif terbatas.

"Kita memproduksi sekitar 50 persen nikel dunia, tetapi kontribusi dalam produksi mobil global hanya sekitar 2 persen. Artinya, sebagian nikel tersebut perlu diolah lebih lanjut menjadi baterai atau produk lainnya," jelasnya.

Deputi Rachmat menegaskan arah kebijakan investasi harus berorientasi pada peningkatan nilai tambah dan kapasitas produksi domestik.

"Kita ingin memastikan setiap investasi meningkatkan dampak. Dampak itu tercermin dari nilai tambah, peningkatan ekspor, serta pengurangan dampak lingkungan," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Deputi Rachmat juga menyoroti pentingnya penguatan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) sebagai platform multipemangku kepentingan yang berkelanjutan. ISF dinilai telah menjadi wadah strategis yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil dalam mendorong agenda keberlanjutan.

"Pada akhirnya, pemerintah dan pelaku usaha di Indonesia bersikap rasional. Kita ingin memastikan setiap sumber daya dan investasi memberikan dampak nyata," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya keselarasan antara kebutuhan pasar global dan arah produksi dalam negeri, termasuk dalam pengembangan produk hijau.

"Kalau dunia membutuhkan kendaraan hijau, kita bisa memproduksinya. Jika diperlukan aluminium hijau, kita juga mampu. Namun, kita perlu memahami kebutuhan pasar agar investasi tepat sasaran," ungkapnya.

Deputi Rachmat juga menyoroti pentingnya industrialisasi sebagai langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Selain itu, ia menekankan pentingnya transisi energi, termasuk elektrifikasi transportasi.

"Kita masih mengimpor sekitar setengah dari kebutuhan minyak. Peralihan ke elektrifikasi transportasi menjadi langkah yang logis," tambahnya.

Menutup paparannya, Deputi Rachmat menegaskan konsistensi kebijakan pembangunan harus didasarkan pada pendekatan rasional dan berbasis potensi serta kebutuhan nasional.

"Konsistensi harus berangkat dari logika—apa yang kita miliki, apa yang kita butuhkan, dan bagaimana memaksimalkan keduanya," tandasnya.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pasca KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Jalur Selatan Kembali Normal
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
Hector Souto Puji Kualitas Malaysia: Mereka Punya Pemain-pemain Bagus
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
PBB Ungkap Kondisi Pasukan TNI Korban Serangan Terkini ke Lebanon
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Bigmo Minta Maaf, Kasus Pencemaran Nama Baik Azizah Salsha Berujung Damai
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Kualitas Udara Surabaya, Tangsel, Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat Hari Ini
• 14 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.