Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan sejumlah akomodasi guna mendukung pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang pendidikan SMP bagi para peserta tes berstatus Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati mengatakan akomodasi tersebut tidak hanya disediakan bagi peserta TKA berstatus ABK yang bersekolah di sekolah luar biasa (SLB), namun juga bagi mereka yang bersekolah di sekolah reguler berkategori inklusi.
“Jadi, tidak hanya untuk sekolah luar biasa, untuk murid-murid berkebutuhan khusus di sekolah reguler pun kami memberikan akomodasi. Akomodasi ini dalam bentuk soal yang sudah disesuaikan,” kata Rahmawati dalam kegiatan Pertemuan Media Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik Jenjang SMP/MTs/sederajat di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Selasa malam.
Akomodasi dalam bentuk soal tersebut, lanjutnya, menyesuaikan dengan hambatan yang dimiliki para peserta TKA sehingga mereka dapat mengerjakan setiap soal dengan optimal.
Untuk peserta tes dengan hambatan penglihatan, seperti tunanetra atau low vision, pihaknya menyediakan paket soal dengan konten gambar yang minim, baik dalam bentuk grafik, tabel maupun gambar.
Baca juga: Kemendikdasmen laporkan 13 pelanggaran dalam penyelenggaraan TKA SMP
"Hal ini dikarenakan paket soal yang demikian akan dibacakan melalui aplikasi screen reader sehingga hampir seluruh soal dalam bentuk kalimat," katanya.
Sebaliknya, pihaknya menyediakan paket soal dengan konten gambar lebih banyak dan kalimat yang lebih sedikit bagi peserta tes dengan kondisi tunarungu maupun ABK dengan hambatan belajar spektrum ringan.
“Karena mereka lebih kuat di visual daripada kosakata ataupun kalimat-kalimat yang kompleks. Dan itu sudah diterapkan,” kata Rahmawati.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan pihaknya juga menerima masukan terkait penyelenggaraan TKA bagi peserta ABK.
Beberapa sekolah, kata dia, menyarankan agar jadwal penyelenggaraan TKA bagi peserta ABK tidak dibuat terlalu pagi karena mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap-siap menuju ke sekolah.
Baca juga: Di tengah keterbatasan, murid SLB antusias dan optimistis ikuti TKA
“Ada masukan memang yang sangat bagus, bahwa khusus untuk siswa-siswa disabilitas agar waktunya tidak terlalu pagi. Jadi mungkin harus disimpan di sesi yang agak siang, sesi 2, sesi 3, supaya tidak berat untuk siswa-siswa disabilitas datang di pagi hari,” kata Toni.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati mengatakan akomodasi tersebut tidak hanya disediakan bagi peserta TKA berstatus ABK yang bersekolah di sekolah luar biasa (SLB), namun juga bagi mereka yang bersekolah di sekolah reguler berkategori inklusi.
“Jadi, tidak hanya untuk sekolah luar biasa, untuk murid-murid berkebutuhan khusus di sekolah reguler pun kami memberikan akomodasi. Akomodasi ini dalam bentuk soal yang sudah disesuaikan,” kata Rahmawati dalam kegiatan Pertemuan Media Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik Jenjang SMP/MTs/sederajat di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Selasa malam.
Akomodasi dalam bentuk soal tersebut, lanjutnya, menyesuaikan dengan hambatan yang dimiliki para peserta TKA sehingga mereka dapat mengerjakan setiap soal dengan optimal.
Untuk peserta tes dengan hambatan penglihatan, seperti tunanetra atau low vision, pihaknya menyediakan paket soal dengan konten gambar yang minim, baik dalam bentuk grafik, tabel maupun gambar.
Baca juga: Kemendikdasmen laporkan 13 pelanggaran dalam penyelenggaraan TKA SMP
"Hal ini dikarenakan paket soal yang demikian akan dibacakan melalui aplikasi screen reader sehingga hampir seluruh soal dalam bentuk kalimat," katanya.
Sebaliknya, pihaknya menyediakan paket soal dengan konten gambar lebih banyak dan kalimat yang lebih sedikit bagi peserta tes dengan kondisi tunarungu maupun ABK dengan hambatan belajar spektrum ringan.
“Karena mereka lebih kuat di visual daripada kosakata ataupun kalimat-kalimat yang kompleks. Dan itu sudah diterapkan,” kata Rahmawati.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan pihaknya juga menerima masukan terkait penyelenggaraan TKA bagi peserta ABK.
Beberapa sekolah, kata dia, menyarankan agar jadwal penyelenggaraan TKA bagi peserta ABK tidak dibuat terlalu pagi karena mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap-siap menuju ke sekolah.
Baca juga: Di tengah keterbatasan, murid SLB antusias dan optimistis ikuti TKA
“Ada masukan memang yang sangat bagus, bahwa khusus untuk siswa-siswa disabilitas agar waktunya tidak terlalu pagi. Jadi mungkin harus disimpan di sesi yang agak siang, sesi 2, sesi 3, supaya tidak berat untuk siswa-siswa disabilitas datang di pagi hari,” kata Toni.





