Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan stok plastik bagi industri maupun untuk masyarakat aman. Menurutnya, kenaikan harga plastik saat ini dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada terganggunya pasokan nafta sebagai bahan baku utama industri petrokimia.
Agus menyampaikan, konflik tersebut tersebut memicu koreksi suplai di sektor industri global yang bergantung pada nafta. Plastik sebagai produk turunan petrokimia berbasis minyak bumi ikut terdampak karena gangguan jalur distribusi dan produksi, sehingga menekan struktur biaya di tingkat hulu.
Untuk menjaga keberlangsungan produksi dalam negeri, lanjutnya, Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri petrokimia hulu tengah menempuh sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah menjajaki sumber pasokan nafta dari negara di luar Timur Tengah guna mengurangi ketergantungan pada kawasan tersebut.
"Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri Petrokimia Hulu saat ini tengah menempuh langkah-langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan produksi, di antaranya mencari sumber alternatif. Industri sedang aktif menjajaki pasokan nafta dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan wilayah," ujar Agus kepada kumparan, Selasa (7/4).
Selain itu, industri juga mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga dalam proses produksi untuk menutup kekurangan pasokan nafta. "Penggunaan LPG dioptimalkan sebagai bahan baku penyangga (buffer) dalam proses produksi guna menutupi celah kekurangan pasokan nafta," kata Agus.
Pemerintah juga mendorong peningkatan pemanfaatan plastik hasil daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi guna menjaga stabilitas pasokan di pasar.
Menperin pun membantah isu yang menyebut stok plastik saat ini hanya cukup sampai Mei 2026. Berdasarkan data Indeks Kepercayaan Industri (IKI), subsektor industri kemasan pada Maret 2026 masih berada dalam fase ekspansi tinggi, sehingga stok produk plastik dinilai masih mencukupi.
Penyebab Kenaikan Harga Plastik
Dia mengakui memang terjadi koreksi harga di tingkat produksi akibat kenaikan biaya bahan baku global. Namun demikian, pemerintah memastikan ketersediaan produk plastik tetap aman dan masyarakat maupun industri hilir tidak perlu panik.
“Upaya pengamanan pasokan terus berjalan secara paralel, dan pemerintah berkomitmen memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kementerian Perindustrian terus memperkuat sinergi dengan pelaku industri manufaktur untuk memitigasi dampak pelemahan rantai pasok global. Langkah ini dilakukan agar industri nasional tetap resilien serta mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
"Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik, karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar. Pemerintah berkomitmen memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif," tambahnya.





