jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memperkirakan 2026 lebih menantang bagi negara dalam menekan kasus kebakaran lahan dan hutan (karhutla).
Hal demikian dikatakan Raja Juli dalam rapat koordinasi pencegahan dan penanganan karhutla di kantor Kemenhut, Jakarta, Senin (6/4).
BACA JUGA: Dalang Karhutla Seluas 500 Hektare di Pelalawan Ditangkap Polisi, Tak Diberi Ampun
Menurut Raja Juli, data BMKG mengungkap kasus kekeringan pada 2026 terjadi lebih awal dan panjang.
“Pada tahun ini akan terjadi kekeringan yang lebih awal dan lebih panjang oleh karena itu kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dibanding tahun lalu 2025, pada 2026 ini akan lebih mengancam kita secara lebih bersama,” ujar eks Plt Wakil Kepala Otorita IKN itu dalam keterangan persnya dikutip, Selasa (7/4).
BACA JUGA: Kapolda Riau: Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Karhutla
Raja Juli melanjutkan pihaknya sudah mengidentifikasi selama Januari sampai April 2026 ada kemarau dini di Riau dan Kalimantan Barat.
"Perlu disebarkan informasi kepada masyarakat agar tidak bermain api, karena risikonya sangat besar,” lanjut pria yang juga menjabat Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.
BACA JUGA: El Nino 2026 Diprediksi Sekuat 1997, Ahli Ingatkan Ancaman Karhutla Ekstrem di Riau
Raja Juli kemudian menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar (land clearing) sebagai salah satu faktor utama penyebab karhutla.
Menurut Menhut, tindakan tersebut sangat berbahaya dan telah menjadi perhatian serius aparat penegak hukum.
“Land clearing ini berbahaya, dan kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian agar segera ditindak dan saat ini sudah dalam proses,” kata Raja Juli.
Eks Wamen ATR/BPN itu mengingatkan dampak luas yang ditimbulkan karhutla, tidak hanya terhadap lingkungan tetapi kehidupan masyarakat.
Dalam upaya pencegahan, kata Raja Juli, pemerintah menekankan pentingnya edukasi publik serta pengawasan ketat di lapangan.
Menurutnya, sosialisasi ke masyarakat menjadi kunci agar praktik pembakaran lahan tidak lagi dilakukan, terutama di wilayah-wilayah yang telah teridentifikasi rawan kekeringan.
Selain itu, Menhut menyebut keberhasilan pengendalian karhutla selama ini dinilai tidak lepas dari kuatnya koordinasi lintas sektor.
Dia mengatakan pemanfaatan data berbasis sains juga terus ditingkatkan, termasuk penggunaan teknologi modifikasi cuaca untuk mengurangi risiko kebakaran.
"Kami berharap angka karhutla dari tahun ke tahun sudah membaik, dan tahun ini juga bisa ditekan secara bersama-sama,” ujar alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Turut hadir Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, serta Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, dan Deputi Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan dalam rapat tersebut.
Teuku Faisal mengatakan pemerintah kini fokus pada tindakan preventif demi menekan angka karhutla pada 2026
Teuku mengatakan dirinya mendukung Menhut Raja Antoni dalam mengorkestrasi penanganan karhutla agar seluruh pihak bekerja optimal mencegah dan menangani karhutla.
“Kalau dulu kuratif sekarang jadi preventif. Kami sangat mendukung Pak Menhut mencoba untuk mengkoordinasi agar semua dapat bekerja dalam satu derap langkah yang sama,” kata dia. (ast/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Aristo Setiawan




