CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (7/4), turun 70 poin atau sekitar 0,41 persen ke level Rp17.105 per dolar AS.
Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian global, khususnya terkait ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Kantor Berita Nasional ANTARA, Selasa sore, melaporkan konflik Timur Tengah semakin memanas setelah Iran menolak proposal Amerika Serikat terkait gencatan senjata selama 45 hari serta pembukaan Selat Hormuz secara bertahap. Penolakan ini juga mencakup negosiasi lebih luas mengenai pencabutan sanksi dan rekonstruksi.
Sebagai gantinya, Iran mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk penghentian konflik secara permanen, jaminan keamanan dari serangan di masa depan, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan yang terjadi.
Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak terdorong naik akibat kekhawatiran terganggunya distribusi, yang pada akhirnya memicu risiko inflasi dan menambah tantangan bagi kebijakan moneter di berbagai negara.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Jumat. Data tersebut dinilai krusial dalam memberikan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan rupiah ke level Rp17.092 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS.




