Dampak Konflik Global, Industri Pangan RI Mulai Kekurangan Kemasan Plastik

eranasional.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food mengungkapkan bahwa pihaknya mulai menghadapi tantangan serius dalam memperoleh bahan kemasan plastik untuk produk pangan. Permasalahan ini muncul seiring terganggunya pasokan biji plastik yang menjadi bahan baku utama kemasan di berbagai lini produksi.

Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menyampaikan bahwa kondisi ini sudah mulai dirasakan di hampir seluruh fasilitas produksi perusahaan. Ia menekankan bahwa persoalan kemasan kini menjadi isu krusial, terutama bagi industri pangan yang sangat bergantung pada material plastik untuk distribusi dan penyimpanan produk.

Menurutnya, kelangkaan ini bukan sekadar isu sementara, melainkan telah berdampak langsung pada operasional perusahaan. Berbagai produk pangan seperti beras, minyak goreng, hingga pupuk, sangat bergantung pada kemasan berbahan plastik, baik dalam bentuk karung maupun kemasan kecil untuk kebutuhan ritel.

Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh produk pangan membutuhkan kemasan plastik sebagai pelindung utama. Oleh karena itu, ketika pasokan bahan baku terganggu, dampaknya langsung terasa pada rantai distribusi pangan secara keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan harus mencari alternatif solusi agar produksi tidak terganggu secara signifikan.

Masalah ini tidak terlepas dari kondisi global yang memengaruhi ketersediaan bahan baku plastik. Sebelumnya, harga plastik di pasar internasional memang telah mengalami kenaikan signifikan akibat terganggunya pasokan bahan baku. Salah satu faktor utama yang memicu kondisi ini adalah konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku plastik, terutama naphta. Bahan ini merupakan komponen penting dalam produksi plastik dan sebagian besar pasokannya berasal dari Timur Tengah.

Ia mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen kebutuhan naphta nasional masih dipenuhi dari impor kawasan tersebut. Ketika terjadi gangguan di wilayah penghasil, maka dampaknya langsung dirasakan oleh industri dalam negeri, termasuk sektor pangan dan kemasan.

Konflik yang terjadi di kawasan tersebut turut mengganggu jalur distribusi global, termasuk penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dan bahan baku industri. Akibatnya, pasokan bahan baku plastik menjadi tersendat dan memicu kenaikan harga secara signifikan.

Tidak hanya Indonesia, sejumlah negara di Asia juga mengalami dampak serupa. Beberapa produsen plastik di negara seperti Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, hingga Thailand dilaporkan menghadapi kondisi force majeure akibat keterbatasan pasokan bahan baku. Hal ini semakin memperketat ketersediaan plastik di pasar global.

Kondisi ini kemudian berimbas pada industri kemasan di dalam negeri. Indonesia Packaging Federation (IPF) menyebutkan bahwa lonjakan harga bahan baku akan berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi kemasan, terutama kemasan fleksibel yang banyak digunakan untuk produk pangan.

Direktur Eksekutif IPF, Henky Wibawa, menjelaskan bahwa komponen bahan baku memiliki porsi dominan dalam struktur biaya produksi kemasan, yakni berkisar antara 50 hingga 70 persen. Ketika harga bahan baku melonjak drastis, maka biaya produksi kemasan juga ikut terdorong naik secara signifikan.

Ia memperkirakan bahwa kenaikan harga bahan baku yang mencapai sekitar 80 persen dapat menyebabkan biaya kemasan meningkat hingga 40 persen. Kenaikan ini tentu akan memberikan tekanan tambahan bagi pelaku industri, terutama produsen pangan yang harus menjaga stabilitas harga produk di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Menurutnya, situasi ini menjadi tantangan besar bagi industri kemasan dan sektor terkait lainnya. Para pelaku usaha dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kondisi pasar yang berubah cepat, sekaligus mencari solusi inovatif untuk menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas produk.

Henky juga menekankan pentingnya kolaborasi antara produsen kemasan dengan pemilik merek atau brand owner. Sinergi ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi baru, baik dalam penggunaan material alternatif maupun efisiensi proses produksi, sehingga dampak kenaikan harga dapat diminimalkan.

Di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi pengembangan industri bahan baku plastik dalam negeri. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat rantai pasok domestik, termasuk mendorong investasi di sektor petrokimia.

Dengan memperkuat produksi dalam negeri, Indonesia diharapkan dapat mengurangi risiko terhadap gejolak global di masa mendatang. Selain itu, inovasi dalam penggunaan bahan ramah lingkungan atau alternatif non-plastik juga dapat menjadi solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

Situasi kelangkaan bahan baku plastik ini menjadi pengingat bahwa stabilitas industri pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan pangan itu sendiri, tetapi juga pada faktor pendukung seperti kemasan dan logistik. Tanpa kemasan yang memadai, distribusi pangan akan terhambat dan berpotensi memicu gangguan yang lebih luas.

Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis dari pemerintah dan pelaku industri untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, sekaligus memastikan bahwa kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah tekanan global yang terus berkembang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aaron Ramsey Resmi Pensiun dari Sepak Bola di Usia 35 Tahun
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Kepribadian Orang Sesuai Minuman Kopi Favoritnya
• 16 jam lalubeautynesia.id
thumb
BPOM Setujui Pelabelan Nutri Level di Kemasan Pangan Olahan, Ini 4 Kategorinya
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Implementasi Biodiesel B50 Perlu Penguatan Produksi Sawit di Sektor Hulu
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pasca Insiden Kebakaran Sepeda Motor, Pertamina Tutup Sementara SPBU Sriwijaya Semarang
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.