Pensiun seringkali diasosiasikan dengan seseorang atau kelompok pekerja yang memasuki masa-masa istirahatnya dari segala kesibukan dan kepenatan akan pekerjaan yang menumpuk dan sedang memasuki fase kosong untuk diisi dengan berbagai kegiatan yang disukai, masa-masa di mana terlepas dari berbagai kesibukan pekerjaan yang menuntut berbagai hal, dari bangun lebih pagi karena harus bersiap-siap berangkat ke kantor demi menghindari kemacetan sampai pulang hingga larut malam ketika anak dan istri sudah terlelap tidur, betapa indahnya ketika kesibukan itu semua sudah terlepas dari diri kita, bersantai di rumah sepanjang hari tanpa ada yang mengatur, tidak ada deadline pekerjaan yang acapkali membuat stress pikiran semakin menjadi-jadi.
Namun nyatanya tidak jarang keindahan masa-masa pensiun yang dulu seringkali diimpikan justru menyimpan persoalan baru; gaji pokok yang tidak lagi penuh didapat, hingga menjalar ke berbagai tunjangan yang dulu dapat dinikmati namun kini ketika masa pensiun tiba semua itu dihapus. Tidak hanya itu, penghormatan dan pelayanan yang kita dapatkan waktu masih bekerja serta merta hilang, tidak ada lagi yang akan memberikan rasa hormat akan jabatan yang disandang, tidak ada lagi yang akan menyiapkan secangkir teh atau kopi di meja kerja, tanda tangan yang dulu begitu ampuh untuk memuluskan berbagai kebijakan namun kini sudah tidak diperlukan lagi, kekuatan akan jabatan serta merta hilang seperti layaknya daun-daun dengan mudahnya berterbangan karena terhempas angin, justru yang tersisa hanya usia yang sudah renta, tenaga yang kian lemah dan kesepian yang kian menghantui.
Maka dari itu penting kiranya untuk tumbuh kesadaran sedari awal bahwa tidak selamanya pekerjaan serta jabatan akan terus di genggaman, perlu mengelola dan menata hati serta diri agar pensiun datang dengan keindahan yang menyertai bukan persoalan yang menerpa, yang seringkali beriringan dengan kesepian sehingga keindahan masa pensiun yang didambakan tidak berujung menjadi sebuah ilusi.
Pensiun bukanlah masa yang harus ditunggu-tunggu, karena tanpanya pun masa pensiun pasti akan datang, pensiun mesti dipersiapkan dari sisi mentalitas, fisik hingga persoalan keuangan. Kebiasaan-kebiasaan baik yang kita tanam pada saat masa aktif bekerja dan terus dirawat akan memberikan dampak dahsyat bagi diri kita hingga masa pensiun itu tiba, maka di titik itulah keindahan akan pensiun bukan hanya sebuah imajinasi apalagi ilusi tapi sebuah kenyataan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 hanya ada 5, 01% lansia yang pembiayaan rumah tangganya berasal dari jaminan pensiun, mayoritas atau 83, 47% rumah tangga lansia memenuhi kebutuhannya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja.
Sehingga penting kiranya kita memiliki kebiasaan-kebiasaan baik pada saat masih aktif bekerja, seperti berolahraga, membaca, menulis, berinvestasi dan lainnya karena kebiasaan-kebiasaan baik itulah yang nantinya akan menjadi jembatan antara imajinasi dan kenyataan.
Orang-orang yang memiliki kebiasaan baik lalu merawatnya hingga masa pensiun tiba adalah pribadi yang luar biasa karena sangat jarang orang yang mampu menjaga konsistensi dengan rentang waktu yang begitu panjang.
Saya melihat hal ini belum sepenuhnya disadari oleh banyak orang, seringkali kita sangat bersemangat melakukan kebiasaan baik namun hanya bertahan tidak lama sehingga mudah sirna dan tenggelam seiring berjalannya waktu. Kemampuan di dalam menjaga konsistensi merupakan keterampilan yang amat dahsyat karena kesuksesan seringkali datang bukan dimulai dari sesuatu yang besar namun dari hal-hal kecil kemudian dilakukan secara berulang-ulang.




