Diiming-imingi Gaji Besar, Sherly Tjoanda Kaget Dengar Pengakuan Korban Soal Realita Pahit Kerja di Luar Negeri

tvonenews.com
19 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com - Dalam sebuah pertemuan yang diunggah melalui media sosial, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, tampak terkejut saat mendengar langsung cerita para korban yang mengalami eksploitasi di luar negeri.

Diketahui, kasus perdagangan manusia kembali menjadi sorotan setelah pengakuan mengejutkan dari sejumlah korban yang berhasil dipulangkan ke Indonesia.

Para korban mengaku awalnya tergiur dengan tawaran pekerjaan bergaji besar.

Mereka dijanjikan posisi sebagai pekerja marketing e-commerce dengan gaji mencapai 24.000 hingga 26.000 baht per bulan. Namun, kenyataan yang mereka hadapi jauh dari harapan.

Salah satu korban laki-laki mengungkapkan bahwa selama bekerja, ia hanya menerima gaji sekali sebesar 2.000 hingga 3.000 baht, atau sekitar Rp1,5 juta jika dikonversikan ke rupiah.

Padahal, ia sudah bekerja sejak bulan Agustus dan bertahan hampir lima bulan di negara tersebut.

"Pernah sih dikasih," ujar korban.

Mendengar hal tersebut, Sherly Tjoanda langsung mempertanyakan kondisi kerja yang sebenarnya dialami para korban.

Dari pengakuan mereka, pekerjaan yang dijanjikan sebagai marketing ternyata berubah menjadi aktivitas ilegal, yakni melakukan penipuan atau scamming secara online.

Para korban dipaksa menjalankan modus penipuan dengan menyasar target tertentu melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Mereka diminta mencari korban yang memiliki profil ekonomi baik, seperti pejabat, dosen, atau orang dengan aset yang dianggap layak untuk ditipu.

Korban Pekerja Ilegal Luar Negeri
Sumber :
  • Instagram/s_tjo

Modus yang digunakan cukup terstruktur. Korban diminta membangun komunikasi secara perlahan melalui WhatsApp untuk mendapatkan kepercayaan target.

Setelah itu, mereka diarahkan untuk menyinggung peluang bisnis di platform luar negeri yang diklaim berasal dari Eropa.

Menariknya, para korban juga mengungkap bahwa mereka menggunakan identitas palsu berupa foto perempuan untuk menarik perhatian target.

Hal ini dilakukan agar korban yang mayoritas pria berusia di atas 35 tahun lebih mudah terpengaruh.

“Semua pakai foto cewek,” ujar salah satu korban.

Tak hanya dipaksa melakukan aktivitas ilegal, para korban juga menghadapi tekanan berat jika tidak mencapai target.

Mereka diwajibkan mendapatkan minimal tiga pelanggan setiap harinya. Jika gagal, mereka akan menerima hukuman fisik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Ancam Hancurkan Data Center Stargate Milik OpenAI di Abu Dhabi
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Populer: Trump Sebut AS Pungut Biaya Selat Hormuz; Lapor SPT Nihil via M-Pajak
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
OJK Ungkap Skema Penguatan Bursa Usai FTSE Pertahankan Status Pasar Saham RI
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Makanan yang Bisa Dicampur dengan Alpukat
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
Kemlu harap gencatan senjata AS-Iran jadi langkah akhiri perang
• 41 menit laluantaranews.com
Berhasil disimpan.