Antara Kepedulian dan Pilihan: Mengapa Seseorang Terjun ke Dunia Keperawatan?

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

Di tengah banyaknya pilihan jurusan perkuliahan, keperawatan menjadi salah satu bidang yang paling banyak diminati. Bahkan, dalam Jurnal Ilmiah Keperawatan yang ditulis oleh Rohmah et al. (2023), saat ini profesi keperawatan tidak hanya populer di kalangan perempuan saja, tetapi juga kalangan laki-laki.

Perawat memiliki peran yang penting dalam memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari tindakan medis hingga dukungan emosional kepada pasien beserta keluarga dari pasien. Profesi ini menuntut keahlian sekaligus jiwa kemanusiaan yang tinggi. Perhatian terhadap profesi keperawatan pun turut meningkat sejak terjadinya pandemi COVID-19.

Dalam situasi krisis tersebut, perawat menjadi garda terdepan. Perawat yang memberikan pelayanan pertama terhadap pasien COVID-19. Hal ini semakin mendorong minat masyarakat terhadap profesi keperawatan, baik karena keinginan diri sendiri yang didasari oleh idealisme ataupun pertimbangan seperti peluang kerja yang luas.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (2023), jumlah tenaga kesehatan di Indonesia mencapai sekitar 1.9 juta orang, dengan perawat sebagai kelompok yang mendominasi. Kondisi ini diperkuat oleh laporan World Health Organization (2021) yang menyebutkan bahwa permintaan tenaga keperawatan terus meningkat secara global, terutama di negara berkembang. Selain itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023) juga mencatat bahwa persebaran tenaga kesehatan yang mumpuni di Indonesia masih belum merata. Di beberapa daerah, permintaan penyediaan perawat sebagai tenaga kesehatan tetap terhitung tinggi.

Di satu sisi, profesi keperawatan sangat erat kaitannya dengan nilai kepedulian dan empati. Individu yang memiliki tingkat kepedulian tinggi cenderung lebih peka terhadap kondisi orang lain dan tergerak untuk membantu dengan maksimal. Penelitian oleh Atta et al. (2024) menyatakan bahwa empati merupakan kunci penting dalam praktik keperawatan modern dan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pelayanan pasien. Seseorang dengan tingkat empati yang tinggi cenderung memiliki komitmen yang lebih kuat terhadap profesinya.

Namun, realita menunjukkan jika tidak semua orang memilih jurusan keperawatan karena kepedulian saja. Banyak faktor lain yang memengaruhi minat seseorang, seperti peluang kerja, anjuran dari lingkungan sekitar (baik keluarga dan teman) ataupun kombinasi dari beberapa faktor yang disebutkan.

Fenomena ini mencerminkan perubahan pola pikir generasi muda saat ini. Pemilihan jurusan tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada passion atau nilai kemanusiaan, tetapi juga mempertimbangkan aspek rasional. Dalam hal ini, kepedulian bukan satu-satunya penentu, melainkan salah satu dari banyaknya faktor yang saling berpengaruh.

Lalu, apakah rasa kepedulian seseorang masih berperan penting dalam menentukan pilihan jurusan keperawatan?

Jawabannya adalah berupa kemungkinan adaptif yang bergantung pada masing-masing individu. Kepedulian tetap menjadi nilai utama dalam profesi keperawatan, tetapi tidak selalu menjadi faktor awal. Studi oleh Cabatana et al. (2024) mengungkapkan bahwa pengalaman praktik klinik dan interaksi langsung dengan pasien berkontribusi tinggi dalam meningkatkan empati mahasiswa keperawatan. Artinya, empati dapat berkembang selama proses pendidikan keperawatan berlangsung.

Berdasarkan studi tersebut, maka seseorang yang awalnya memilih keperawatan karena alasan realistis akan tetap memiliki peluang untuk mengembangkan kepedulian seiring berjalannya waktu. Namun, kurangnya unsur empati akan menjadi tantangan yang besar dalam praktik keperawatan. Perawat yang tidak memiliki kepedulian tinggi berisiko memberikan pelayanan yang bersifat fisik saja dan kurang memperhatikan aspek psikologis pasien. Kekurangan ini tentunya bertentangan dengan paradigma keperawatan yang menekankan aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual dalam penerapannya.

Oleh karena itu, institusi pendidikan keperawatan memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, komunikasi, dan kepedulian sosial. Upaya ini sejalan dengan rekomendasi dari World Health Organization (2021) yang menekankan pentingnya penguatan soft skills dalam pendidikan tenaga kesehatan.

Di sisi lain, calon mahasiswa juga perlu melakukan refleksi diri sebelum memilih jurusan keperawatan. Refleksi diri dilakukan sebagai bentuk pengenalan jati diri dan keinginan mereka. Memahami motivasi pribadi menjadi langkah penting agar pilihan yang diambil tidak hanya tepat secara rasional, tetapi juga sesuai dengan nilai dan kesiapan emosional yang dapat dipertanggungjawabkan di masa depan sebagai seorang tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, hubungan antara tingkat kepedulian dan minat memilih jurusan keperawatan merupakan hubungan yang kompleks dan saling berkesinambungan. Kepedulian dapat menjadi faktor awal, tetapi juga bisa berkembang melalui proses pendidikan dan pengalaman. Namun, keduanya tetap saling berkaitan dalam membentuk seorang perawat yang profesional dan berintegritas.

Pada dasarnya, di balik setiap tindakan medis, terdapat nilai kemanusiaan yang tidak tergantikan. Hal itulah yang menjadi inti dari profesi keperawatan di era modern.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia Lolos dari Downgrade FTSE, Pasar Modal RI Dapat Angin Segar
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kajati Sulsel Didik Farkhan Terima Gelar Kehormatan Tertinggi Adat Bugis: “La Mappapole Daeng Pawinru”
• 15 jam laluharianfajar
thumb
Presiden Gelar Rapat Kerja Akbar, Bahas Kondisi Ekonomi di Tengah Geopolitik Timur Tengah
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kejati NTB Periksa Dokumen BPN Lombok Tengah Terkait Kasus Gratifikasi
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pemerintah Cari Sumber Dana Lain Antisipasi Lonjakan Biaya Haji 2026
• 16 menit laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.