Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan pertimbangan pemerintah di balik keputusan untuk tetap mempertahankan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Langkah ini diambil terutama untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi nasional tidak terhambat.
Menurut Purbaya, kebijakan tersebut sangat mempertimbangkan kondisi riil di lapangan, khususnya bagi kelompok masyarakat kelas bawah yang paling rentan terhadap perubahan harga.
Meski pengurangan subsidi seringkali dipandang sebagai cara untuk memperlebar ruang fiskal negara, pemerintah menilai risiko kenaikan beban hidup masyarakat jauh lebih besar.
“Yang pertama, yang jelas ketika BBM naik, beban hidup rakyat banyak, utamanya yang (berpenghasilan) kecil kan terganggu,” jelas Purbaya saat ditemui di Jakarta, Selasa (7/4).
Dari perspektif makroekonomi, Purbaya berpendapat bahwa menaikkan harga BBM pada dasarnya hanyalah memindahkan beban dari kas negara langsung ke kantong masyarakat.
Hal ini dikhawatirkan akan memicu penurunan daya beli yang berujung pada kelesuan ekonomi.
“Yang kedua kalau dari sisi ekonomi itu kan tinggal mindahin, kalau saya naikkin BBM-nya, uangnya jadi punya saya, tapi rakyat harus bayar lebih dan itu bisa melambatkan ekonominya,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti tingkat efisiensi penggunaan dana. Purbaya menilai bahwa uang yang beredar di tangan masyarakat cenderung digunakan secara lebih efektif untuk pemenuhan kebutuhan primer dibandingkan jika dana tersebut dikelola melalui birokrasi kementerian atau lembaga.
“Kalau masyarakat yang belanjakan, itu sesuai kebutuhan sehingga lebih tepat sasaran. Kalau pemerintah, bisa saja dibagi rata ke kementerian atau lembaga sehingga efisiensinya berkurang,” kata Purbaya.
Menkeu menegaskan bahwa kebijakan ini selaras dengan strategi pemerintah dalam menjaga titik keseimbangan antara kesehatan fiskal dan perlindungan sosial di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.
Meskipun efisiensi anggaran tetap menjadi fokus internal pemerintah, hal tersebut diupayakan tidak dengan cara menaikkan harga energi yang dapat memukul konsumsi rumah tangga. (ant/dpi)




