Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti dampak nyata konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terhadap ekonomi nasional. Perang tersebut memicu kenaikan harga sejumlah komoditas mulai dari avtur hingga produk turunan plastik.
Industri pertanian saat ini menghadapi kesulitan dalam mendapatkan stok karung untuk gabah. Zulhas mengaku menerima aduan langsung mengenai kelangkaan karung plastik dari wilayah Kalimantan Barat.
“Mau beli gabah, karungnya tidak ada karena karungnya dari plastik,” ujar Zulhas di kantornya, Selasa (7/4/2026). Ia menyebut kenaikan harga plastik menjadi faktor utama penghambat distribusi hasil panen tersebut.
Konflik global ini turut mengganggu jalur logistik laut internasional secara signifikan. Penutupan Selat Hormuz memaksa rute transportasi kapal kargo berputar lebih jauh.
Biaya ongkos kirim meningkat tajam seiring bertambahnya waktu tempuh pengiriman barang. Waktu perjalanan laut yang semula hanya 20 hari kini membengkak menjadi 60 hari.
Kenaikan harga avtur dunia juga memperparah kondisi biaya transportasi udara domestik. Zulhas memprediksi harga tiket pesawat berpotensi mengalami kenaikan hingga 13 persen.
Meskipun banyak sektor terdampak, pemerintah menjamin kedaulatan pangan nasional tetap terjaga. Indonesia diklaim telah mencapai swasembada pangan sehingga stok beras dipastikan aman.
“Beras aman, tidak ada kenaikan apapun,” tegas Zulhas mengenai stabilitas harga pangan pokok. Pasokan beras nasional diproyeksikan mencukupi kebutuhan hingga tahun 2027 mendatang.
Baca Juga: DPR: Kenaikan Harga Plastik Picu Tekanan Biaya Serius bagi UMKM
Kesiapan Indonesia menghadapi krisis global dinilai jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Pemerintah terus memperkuat cadangan pangan guna meredam gejolak harga di pasar internasional.
Sinkronisasi kebijakan distribusi tetap menjadi prioritas utama kementerian koordinator bidang pangan. Langkah antisipasi terus dilakukan untuk meminimalisir dampak gangguan logistik terhadap harga barang di tanah air.





