Jakarta, tvOnenews.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran selama dua pekan, hanya beberapa jam sebelum operasi itu disebut akan dilancarkan.
Keputusan tersebut diumumkan Trump melalui platform Truth Social pada Selasa (7/4/2026) malam waktu setempat. Dalam unggahannya, Trump menyebut penundaan dilakukan usai komunikasi dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir.
Trump mengatakan Pakistan meminta Washington menahan serangan yang telah dipersiapkan. Namun, penundaan itu disebut disertai syarat Iran harus membuka Selat Hormuz secara penuh, aman, dan segera.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump, seperti dikutip Al Jazeera.
Sebelumnya, Trump sempat melontarkan ultimatum keras kepada Teheran. Ia mengancam akan menghancurkan fasilitas minyak Iran bila negara itu tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Namun saat tenggat waktu berakhir, Trump tidak jadi melakukan serangan. Sebagai gantinya, ia mengumumkan jeda serangan udara selama lima hari dan mengklaim telah terjadi pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Iran melalui jalur tidak langsung.
Langkah Trump kembali mengubah arah kebijakan luar negeri AS di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Meski dikenal kerap mengeluarkan ancaman lalu mundur di menit akhir, kali ini pernyataannya dinilai lebih sulit ditarik karena disampaikan berulang kali di ruang publik.
Trump bahkan sempat menegaskan militer AS memiliki kemampuan untuk melumpuhkan infrastruktur vital Iran.
“Kami memiliki rencana, di mana setiap jembatan di Iran akan hancur dan setiap pembangkit listrik akan tidak berfungsi,” kata Trump.
Meski begitu, sejumlah pengamat meragukan efektivitas opsi militer tersebut. Mantan pejabat intelijen Israel Danny Citrinowicz menilai serangan besar terhadap infrastruktur Iran tidak akan otomatis memaksa Teheran menyerah.
“Tekanan saja tidak akan menghancurkan Teheran. Itu bukan strategi, melainkan angan-angan,” tulis Danny di media sosial X. (nba




