Berbagai laporan menunjukkan bahwa angka diabetes cenderung lebih rendah pada masyarakat yang tinggal di wilayah dataran tinggi. Namun, alasan di balik kondisi tersebut belum dipahami sepenuhnya selama ini.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism pada Maret 2026, para peneliti berhasil memberikan alasan tersebut. Peneliti memaparkan bahwa kondisi itu terkait dengan kadar oksigen dan regulasi gula dalam darah. Pada lingkungan dengan kadar oksigen yang rendah, sel-sel darah merah cenderung lebih aktif menyerap glukosa dalam darah.
Temuan tersebut pertama kali diamati dalam pengujian yang dilakukan pada tikus. Saat tikus ditempatkan dalam lingkungan dengan kadar oksigen rendah, kadar gula darah pada tikus tersebut justru menurun.
Temuan berikutnya menunjukkan bahwa glukosa pada darah tidak sepenuhnya diserap oleh organ-organ tubuh besar seperti hati dan otot. Sebagian besar glukosa justru menghilang tanpa alasan yang jelas.
Untuk menjawab berbagai alasan-alasan yang belum terungkap tersebut, peneliti kemudian melakukan pengujian lanjutan. Percobaan lanjutan dilakukan dengan menempatkan hewan coba tikus di tempat dengan kadar oksigen hanya delapan persen. Kadar tersebut disesuaikan dengan kondisi dataran tinggi.
Sebagai pembanding, hewan coba tikus lain ditempatkan pada tempat dengan kadar oksigen normal sebesar 21 persen. Dalam beberapa minggu kemudian, kedua kelompok tikus uji diberi suntikan glukosa.
Hasil pengujian menunjukkan perbedaan yang mencolok. Pada tikus yang berada pada lingkungan dengan kondisi kadar oksigen rendah, lonjakan gula darah yang terjadi jauh lebih kecil. Hal itu menandakan bahwa tubuh pada tikus di tempat dengan kadar oksigen rendah memiliki kemampuan yang lebih cepat untuk menurunkan glukosa dalam darah.
Tubuh pada tikus di tempat dengan kadar oksigen rendah memiliki kemampuan yang lebih cepat untuk menurunkan glukosa dalam darah.
Efek tersebut pun tidak bersifat sementara. Saat tikus dikembalikan ke lingkungan dengan kadar oksigen normal, kemampuan tubuh dalam mengendalikan gula darah tetap tinggi. Penelitian selanjutnya juga menemukan hal lain bahwa peningkatan protein GLUT1 pada sel darah merah terbentuk dalam kondisi hipoksia.
Protein ini berfungsi sebagai pintu masuk glukosa ke dalam sel. Peningkatan jumlah protein tersebut membuat sel darah merah mampu menyerap glukosa hingga tiga kali lipat lebih banyak.
Ahli biologi sel darah merah di Universitas Saarland, Jerman, Lars Kaestner dikutip dari LiveScience, menyampaikan, kondisi kenaikan jumlah sel darah merah pada lingkungan dengan tekanan udara rendah sudah lama diketahui. Namun, keterkaitan antara sel darah merah dan kemampuan tubuh menyerap glukosa belum diketahui sebelumnya.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam kondisi udara tipis, sel darah merah meningkatkan transportasi oksigen ke seluruh tubuh dengan menggunakan glukosa sebagai bahan bakar. “Karena itu, kadar glukosa darah menjadi lebih rendah, sebab jumlah sel darah merah yang lebih banyak turut membersihkan glukosa dari aliran darah,” kata Kaestner.
Hal ini pula yang menjelaskan mengapa atlet sering berlatih di dataran tinggi. Dengan meningkatnya jumlah sel darah merah, distribusi oksigen menjadi lebih efisien ke seluruh tubuh.
Dalam percobaan lain, para peneliti memberi tikus uji dengan senyawa eksperimental bernama HypoxyStat. Senyawa ini membuat hemoglobin lebih kuat mengikat oksigen.
Kondisi ini meniru keadaan kekurangan oksigen saat berada di wilayah dataran tinggi. Dengan cara itu, para peneliti berharap obat dengan senyawa HypoxyStat bisa meningkatkan jumlah sel darah merah sekaligus membantu mengontrol kadar gula darah.
Menurut ahli biokimia di Gladstone Institutes dan Universitas California, San Francisco, Isha Jain, hasil penelitian ini punya implikasi yang besar untuk perkembangan terapi diabetes. Terapi tidak hanya terbatas pada insulin tetapi terapi juga bisa dikembangkan pada sel darah merah.
"Penelitian ini menyoroti peran penting dari sel darah merah dalam mengelola diabetes. Itulah konsep yang ditargetkan di masa depan dari penelitian ini," tuturnya.
Namun, ahli biokimia dari Universitas Liverpool, Sonia Rocha, mengatakan bahwa penelitian ini masih perlu diuji lebih lanjut sebelum bisa digunakan sebagai terapi diabetes. Ia menekankan bahwa keamanan dan efektivitas penggunaan sel darah merah dalam jangka panjang masih harus dipastikan terlebih dahulu.





