Sering Ingkar Janji! Presiden AS Donald Trump Kini Umumkan Janji Gencatan Senjata, Bagaimana Sikap Iran?

harianfajar
15 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, TEL AVIV — Di tengah eskalasi yang nyaris tak terkendali, sebuah jeda tiba-tiba diumumkan. Donald Trump, dengan gaya komunikasinya yang khas—langsung, dramatis, dan kerap tak terduga—menyatakan gencatan senjata dua pekan dengan Iran. Sebuah keputusan yang, jika dilihat sekilas, tampak seperti upaya meredakan ketegangan. Namun jika ditarik lebih dalam, ia juga membuka pertanyaan lama: seberapa stabil komitmen ini?

Bagi Israel, yang disebut telah menyetujui langkah tersebut, jeda ini bisa menjadi ruang taktis—mengatur ulang strategi, bukan menghentikan konflik sepenuhnya. Sementara bagi Iran, respons yang muncul justru bernuansa berbeda. Pernyataan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang mengonfirmasi kesepakatan sementara, disertai klaim “kemenangan”, menunjukkan bahwa Teheran tidak melihat ini sebagai kompromi, melainkan sebagai hasil dari tekanan yang berhasil mereka tahan.

Di titik ini, gencatan senjata bukan sekadar penghentian senjata. Ia menjadi arena narasi—siapa yang tampak lebih kuat, siapa yang mengalah, dan siapa yang mengendalikan situasi.

Faktor kunci dalam kesepakatan ini adalah Selat Hormuz. Jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia ini kembali menjadi pusat negosiasi. Iran bersedia membuka akses dengan syarat tertentu, termasuk koordinasi militer dan pembatasan teknis. Artinya, kendali tetap berada di tangan mereka.

Ini penting.

Karena dalam konflik geopolitik, menguasai chokepoint seperti Hormuz berarti memiliki leverage global. Setiap kapal yang melintas bukan hanya membawa minyak, tetapi juga kepentingan ekonomi negara-negara besar.

Namun di balik kesepakatan sementara ini, retorika Trump justru memperlihatkan paradoks. Dalam waktu yang hampir bersamaan, ia melontarkan ancaman keras—bahkan menyebut kemungkinan “akhir peradaban”. Pernyataan seperti ini bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi bagian dari strategi tekanan.

Masalahnya, pola seperti ini bukan hal baru.

Trump dikenal sering menggunakan pendekatan “tekan–tawar”: menaikkan tensi setinggi mungkin, lalu menawarkan kompromi sebagai jalan keluar. Bagi sebagian pihak, ini efektif. Tetapi bagi lawan seperti Iran, yang terbiasa menghadapi tekanan jangka panjang, strategi ini tidak selalu menghasilkan kepatuhan.

Sebaliknya, ia bisa memperkuat resistensi.

Respons Iran dalam konteks ini terlihat konsisten. Mereka tidak menolak gencatan senjata, tetapi juga tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Dengan menyebutnya sebagai kemenangan dan tetap mengontrol akses Hormuz, Iran menjaga posisi tawarnya tetap tinggi.

Artinya, dua pekan ke depan bukanlah periode damai, melainkan fase menunggu.

Menunggu apakah gencatan ini akan diperpanjang, dilanggar, atau justru menjadi jeda sebelum eskalasi berikutnya.

Di level internasional, dinamika ini semakin kompleks setelah kegagalan Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi terkait keamanan navigasi. Veto dari Rusia dan China menunjukkan bahwa konflik ini tidak berdiri sendiri. Ia sudah menjadi bagian dari tarik-menarik kekuatan global.

Ketika forum internasional gagal mencapai konsensus, ruang bagi aksi sepihak menjadi lebih besar. Dan dalam situasi seperti ini, gencatan senjata sering kali rapuh.

Jadi, bagaimana sikap Iran?

Jawabannya: pragmatis, tetapi tetap waspada.

Mereka menerima jeda, memanfaatkannya untuk memperkuat posisi, tetapi tidak menunjukkan tanda akan mundur secara strategis. Dalam logika mereka, bertahan dari tekanan saja sudah merupakan kemenangan.

Sementara itu, bagi Trump, gencatan senjata ini bisa menjadi klaim keberhasilan diplomasi—setidaknya untuk sementara.

Namun sejarah menunjukkan, dalam konflik seperti ini, dua pekan bukanlah waktu yang cukup untuk mengubah arah. Ia hanya cukup untuk mengatur ulang langkah.

Dan ketika waktu itu habis, dunia akan kembali melihat: apakah ini awal dari de-eskalasi, atau sekadar jeda sebelum babak berikutnya dimulai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kesatuan Langit dan Manusia: Kebijaksanaan Budaya Tradisional Tiongkok
• 13 jam laluerabaru.net
thumb
DLH Kabupaten Bogor Segel Tempat Pembuangan Sampah Ilegal di Klapanunggal
• 7 jam laludetik.com
thumb
Polda Metro Jaya Ungkap 1.833 Kasus Narkoba di Awal 2026
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Penataan Jukir Liar Jadi Fokus, Pelindo–Pemkot Makassar Perkuat Sinergi di Kawasan Pelabuhan
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Industri Pulp dan Kertas Sumbang 3,73 Persen PDB Nonmigas, Ekspor Tembus USD8,17 Miliar
• 9 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.