Bisnis.com, BANDUNG — Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) bersama India ITME Society memperkuat sinergi untuk mendorong program penghematan energi nasional melalui modernisasi permesinan industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
Langkah ini merupakan respons atas gejolak harga energi global yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Direktur Eksekutif API, Danang Girindra, mengungkapkan optimisme bahwa sektor TPT nasional mampu menghadapi potensi gangguan rantai pasok bahan baku dan distribusi ekspor.
Menurutnya API mendukung penuh langkah Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam menjaga stabilitas harga BBM subsidi dan biosolar hingga akhir tahun, termasuk skema penghematan melalui budaya kerja work from home (WFH).
“Kita mendukung upaya upaya strategik Menko Perekonomian untuk mengatasi permasalahan harga energi dunia yang sudah pasti berdampak ke industri dalam negeri,” ujar Danang, Rabu (8/4/2026).
Menurut Danang, kunci efisiensi di tengah tekanan harga energi untuk usahanya yakni dengan transformasi teknologi pada sektor produksi.
API menilai kolaborasi dengan India ITME Society menjadi momentum penting mengingat kemajuan teknologi permesinan tekstil India yang dikenal efisien dalam penggunaan energi.
“Jika upaya penghematan itu dilakukan secara benar dan masif antara kantor pemerintah dan dunia usaha, akan mendapatkan hasil pengurangan subsidi yang lumayan untuk upaya penghematan,” tuturnya.
Selain aspek penghematan, modernisasi mesin dinilai penting untuk mempertahankan jutaan tenaga kerja di industri padat karya. Danang menekankan industri TPT harus tetap kompetitif guna menekan angka pengangguran yang menunjukkan tren peningkatan.
“Hal ini perlu didukung pemerintah, sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan jutaan tenaga kerja di industri padat karya, tekstil dan garmen di Indonesia. Industri padat karya perlu dipertahankan demi membuka lapangan kerja seluas luasnya, sejajar dengan kepentingan strategik pemerintah untuk menuntaskan angka pengangguran yang semakin menaik setiap tahun,” jelasnya.
Lebih lanjut, API bersama delegasi India ITME Society akan segera membahas pengenalan teknologi mutakhir yang mencakup sektor spinning, weaving, processing, hingga technical textiles dan sportstech.
Kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat kinerja ekspor nasional yang saat ini masih didominasi produk hilir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Januari 2026, nilai ekspor pakaian jadi (konveksi) mencapai US$609,4 juta atau sekitar Rp10,36 triliun, jauh melampaui ekspor benang pintal yang tercatat sebesar US$78,3 juta (Rp1,33 triliun). Data tersebut mempertegas bahwa produk bernilai tambah tinggi tetap menjadi penopang utama ekspor tekstil nasional.
“Dukungan penghematan energi, selain roadmap pengurangan energi fosil, musti dilakukan melalui upgrading technologi permesinan juga, jadi perlu upaya besar untuk memperkuat kolaborasi antar negara di sektor tekstil,” tegas Danang.
Ia meyakini, kolaborasi antara basis manufaktur tekstil Indonesia yang kuat dengan keunggulan rekayasa teknologi dari India akan membangun ekosistem industri tekstil Asia yang lebih kompetitif dan berkelanjutan di masa depan.





